MASA Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) biasanya hanya diisi dengan pengenalan guru dan ruang kelas baru. Namun, di Bontang, momentum ini berubah menjadi benteng pertahanan pertama untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman yang merusak masa depan.
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang memutuskan untuk langsung turun ke lapangan, mengetuk pintu-pintu sekolah demi menyapa para siswa baru. Langkah nyata ini diambil agar anak-anak sejak dini memahami dan mampu membentengi diri dari bahaya narkoba.
Sejak Senin, 13 Juli 2026, tim khusus dari BNN Bontang bergerak tanpa lelah menyambangi sedikitnya 20 sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, menegaskan pihaknya tidak ingin memberikan penyuluhan yang kaku dan membosankan. Strategi edukasi diubah total dengan menyesuaikan psikologi perkembangan usia anak.
"Tim kami turun ke beberapa sekolah sejak awal MPLS dan hari ini masih terus berlanjut," ujar Lulyana saat didampingi Konselor Adiksi M. Raiz Aziz, Jumat, 17 Juli 2026.
Bagi anak-anak di tingkat sekolah dasar, BNN mengemas edukasi lewat dunia yang mereka sukai. Suasana kelas berubah ceria dengan adanya storytelling, menonton video animasi bersama, hingga permainan edukatif.
Anak-anak SD tidak langsung dicekoki istilah medis yang rumit. Mereka justru diajak membangun pondasi hidup sehat lewat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
"Kalau usia SD kan lebih senang main. Jadi biar tidak bosan, kami selingi dengan permainan dan menonton video," kata Lulyana ramah.
Tantangan terbesar justru muncul saat tim BNN Bontang memasuki gerbang SMP dan SMA. Fase ini dikenal sebagai masa transisi yang rentan, di mana rasa ingin tahu remaja sedang bergejolak tinggi.
Edukasi untuk siswa SMP dibuat jauh lebih interaktif lewat ruang diskusi terbuka dan kuis berhadiah. BNN membuka ruang bagi mereka untuk menumpahkan segala rasa penasarannya secara sehat.
"Usia SMP ini rasa penasarannya tinggi. Kami berikan kesempatan bertanya untuk mengenal apa sih risiko mengonsumsi zat terlarang tersebut," tuturnya.
Sementara untuk pelajar SMA, pendekatan yang digunakan jauh lebih mendalam. Mereka ditantang untuk menganalisis studi kasus nyata di masyarakat, sehingga para remaja ini sadar bahwa efek kehancuran barang haram tersebut bukan sekadar teori di buku pelajaran.
Respons yang muncul dari balik bangku sekolah ternyata sangat luar biasa. Siswa-siswi SMP dan SMA mengikuti sesi ini dengan penuh antusiasme yang tinggi.
Dukungan penuh pun mengalir dari para kepala sekolah dan guru di Bontang. Pihak sekolah sepakat bahwa benteng pencegahan ini harus diperkuat lewat program P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) yang berkelanjutan.
Lulyana menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh menguap begitu saja sebagai seremonial tahunan ajaran baru.
"Harapan kami, edukasi ini menjadi bekal nyata bagi pelajar untuk menjaga diri. Mereka harus berani berkata tidak pada narkoba dan menjadi agen perubahan bagi teman sebaya di sekitarnya," pungkas Lulyana penuh harap. (*)















