HALAMAN sekolah dasar selama ini identik dengan tempat bermain atau sekadar ruang hijau. Namun, sebuah riset doktoral dari Universitas Mulawarman menawarkan cara pandang baru. Sekolah dinilai bisa mengambil peran lebih besar sebagai penguat ketahanan pangan keluarga sekaligus ikut menekan risiko stunting.
Gagasan itu lahir melalui disertasi Ahmad Aznem, mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman. Penelitian tersebut menghasilkan model tata kelola baru bernama Integrated Food Security School-Based Management (IFS-SBM) yang menghubungkan pengelolaan pertanian sekolah dengan penguatan gizi keluarga peserta didik.
Selama ini, program pertanian di sekolah umumnya diposisikan sebagai kegiatan pendamping atau penghijauan lingkungan. Padahal, menurut hasil penelitian, jika dikelola secara sistematis, kebun sekolah dapat menjadi pintu masuk membangun kebiasaan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi.
Penelitian ini berangkat dari evaluasi terhadap Program Bessai Berinta atau Bersama Atasi Stunting dan Inflasi dengan Bertani Terintegrasi yang dijalankan Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3).
Program tersebut telah hadir di sejumlah sekolah melalui gerakan Smart Tani Goes To School. Namun, studi pendahuluan menemukan masih ada persoalan mendasar, mulai dari belum adanya panduan manajemen yang baku, rendahnya keterlibatan orang tua, hingga koordinasi antarlembaga yang belum berjalan maksimal.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Ahmad Aznem mengembangkan model IFS-SBM sebagai kerangka pengelolaan yang lebih terintegrasi.
Model ini dibangun di atas enam komponen utama, yakni penyusunan visi dan tujuan yang terukur, pembagian tugas yang jelas di lingkungan sekolah, integrasi program ke dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan RKAS, pelaksanaan bersama lintas sektor, pemberdayaan orang tua, serta sistem monitoring dan evaluasi berbasis data.
Melalui pendekatan itu, sekolah tidak lagi hanya berfokus pada capaian akademik. Sekolah juga diarahkan menjadi ruang kolaborasi yang mampu mendorong perubahan pola konsumsi dan kebiasaan bertani di lingkungan keluarga siswa.
Dalam dokumen konseptual penelitian disebutkan bahwa kebaruan model ini terletak pada perluasan paradigma Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
"Kebijakan desentralisasi pendidikan tidak boleh lagi hanya berhenti pada orientasi mutu kurikulum di dalam kelas, melainkan harus meluas hingga menyentuh tata kelola sekolah sebagai pusat penguatan ketahanan pangan dan gizi keluarga siswa di rumah," demikian salah satu poin dalam dokumen konseptual IFS-SBM.
Diuji di 3 Sekolah dengan Karakter Berbeda
Model tersebut dikembangkan menggunakan metode Research and Development (R&D) yang mengadaptasi tahapan Borg & Gall. Penelitian berlangsung melalui tiga fase, yakni studi pendahuluan, pengembangan model, serta validasi dan uji lapangan.
Pengujian dilakukan di tiga sekolah dasar negeri yang mewakili karakter wilayah berbeda di Kota Bontang, yaitu SDN 009 Bontang Utara, SDN 005 Berbas Pantai, dan SDN 002 Bontang Barat.
Pendekatan itu dipilih agar model dapat diuji dalam kondisi perkotaan padat, kawasan pesisir, hingga wilayah hinterland.
Hasil validasi menunjukkan model IFS-SBM memperoleh penilaian sangat tinggi dari para ahli.
Kevalidan konten mencapai 92,8 persen, kevalidan konstruk 90 persen, sedangkan tingkat kepraktisan operasional menyentuh 91,7 persen.
Pada tahap implementasi, sekolah mampu menjalankan seluruh komponen manajemen sesuai rancangan. Aktivitas pertanian sekolah juga berjalan produktif.
Salah satu capaian yang paling menonjol adalah meningkatnya kepemilikan tanaman pangan di pekarangan rumah keluarga siswa sebesar 18,5 poin persentase setelah program diterapkan di tiga sekolah tersebut.
Temuan itu memperlihatkan bahwa perubahan perilaku tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi mulai merambah ke rumah tangga peserta didik.
Meski menghasilkan berbagai capaian positif, penelitian ini juga mencatat sejumlah keterbatasan.
Dalam masa uji coba yang berlangsung antara April hingga Juni 2026, peningkatan pengetahuan gizi makro maupun skor ketahanan pangan rumah tangga berdasarkan Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS) belum menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik.
Peneliti menilai durasi implementasi yang relatif singkat menjadi salah satu penyebabnya. Karena itu, model IFS-SBM direkomendasikan untuk diterapkan dalam jangka waktu lebih panjang dan pada cakupan sekolah yang lebih luas agar dampaknya dapat diukur secara lebih komprehensif.
Disertasi ini disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum. sebagai promotor dan Dr. H. Usfandi Haryaka, M.Pd. sebagai co-promotor.
Lebih dari sekadar memenuhi syarat akademik, model IFS-SBM diharapkan dapat menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah daerah dalam membangun sistem ketahanan pangan berbasis sekolah yang terstruktur, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Bila diterapkan secara konsisten, sekolah bukan hanya mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga ikut memastikan setiap keluarga memiliki akses terhadap pangan bergizi. (*)
















