ORANGTUA siswa baru di Kutai Timur (Kutim) kini bisa sedikit bernapas lega. Keresahan terkait kejelasan seragam sekolah gratis akhirnya terjawab.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim memastikan proyek bernilai jumbo ini sudah lepas dari jerat kendala. Kain-kain seragam kini resmi masuk meja produksi.
Nilai anggarannya tak main-main: Rp41,2 miliar. Angka jumbo ini disiapkan untuk menyokong kebutuhan seragam siswa di tingkat PAUD, SD, hingga SMP se-Kutai Timur.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan persoalan administrasi yang sempat menghambat proses pengadaan kini sudah tuntas. Timnya kini berkejaran dengan waktu agar seragam bisa segera melekat di badan para siswa.
"Pengadaan seragam sudah tidak ada masalah, sudah lewat. Sekarang sedang dalam proses. Targetnya secepatnya," ujar Mulyono saat ditemui di Sangatta, Selasa (21/7/2026).
Menariknya, skema produksi tidak melayang jauh ke pabrik-pabrik besar di luar daerah semata. Pemerintah daerah sengaja membagi porsi kerja ke bengkel-bengkel jahit setempat.
Langkah ini diambil demi menghidupkan roda ekonomi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sangatta dan sekitarnya.
Salah satu usaha konveksi lokal yang digandeng adalah Alfi Tailor. Kehadiran para penjahit daerah diharapkan mempercepat masa penyelesaian, sekaligus memastikan anggaran daerah ikut berputar di tangan warga sendiri.
"Produksinya sebagian di sini dan sebagian lagi di luar. Kita melibatkan penjahit lokal dan UMKM yang ada di sini," tutur Mulyono.
Meskipun Mulyono enggan merinci teknis pembagian unit karena khawatir keliru menyebut angka, rincian alokasi dana pengadaan ini sejatinya tergolong masif.
Berdasarkan penelusuran data pengadaan, alokasi dana Rp41,2 miliar tersebut terbagi dalam tiga tingkatan utama: Tingkat PAUD: Rp11,8 miliar; Tingkat SD: Rp15,4 miliar; Tingkat SMP: Rp13,9 miliar.
Porsi terbesar jatuh pada tingkat SD dan SMP, menyesuaikan dengan lonjakan jumlah siswa baru yang masuk pada tahun ajaran ini. (*)















