MAKAN Bergizi Gratis alias MBG di Bontang mulai menjadi perhatian setelah sejumlah wali murid menyampaikan keluhan terkait pelaksanaan Program nasional ini di sekolah. Keluhan tidak hanya menyangkut selera siswa terhadap menu yang disajikan, tetapi juga dugaan kualitas makanan hingga banyaknya porsi yang berakhir sebagai sisa.
Sejumlah orang tua berharap pelaksanaan program nasional tersebut dievaluasi agar tujuan meningkatkan gizi anak tidak justru memunculkan persoalan baru di lingkungan sekolah.
Salah seorang wali murid berinisial SN mengaku khawatir setelah anaknya mengalami muntah-muntah yang diduga terjadi usai mengonsumsi makanan MBG di sekolah.
Menurutnya, anak sempat menyampaikan kepada guru bahwa makanan yang diterimanya tidak sesuai selera. Namun, ia mengaku anaknya tetap diminta menghabiskan makanan tersebut.
"Anak saya sudah bilang ke gurunya kalau tidak enak. Tapi tetap disuruh makan karena teman-temannya juga makan. Akhirnya dipaksakan sampai habis dan malah muntah," ujar SN.
SN menilai siswa semestinya tidak dipaksa menghabiskan makanan apabila merasa tidak nyaman atau tidak menyukai menu yang diberikan.
Ia juga mengaku anaknya beberapa kali mengeluhkan kualitas telur dalam menu MBG.
"Beberapa hari ini anak saya bilang telurnya seperti basi. Setelah kejadian itu, saya langsung minta ke wali kelas agar anak saya tidak usah dikasih MBG lagi," katanya.
Keluhan serupa disampaikan wali murid lainnya, MA. Ia mengatakan di sekolah anaknya memang tidak ada aturan yang mewajibkan siswa menghabiskan makanan. Meski demikian, menurutnya makanan MBG tetap sering tersisa.
Apabila tidak dimakan, makanan biasanya dibawa pulang atau diberikan kepada teman yang masih ingin makan.
MA menilai persoalan utama bukan pada mekanisme pembagian makanan, melainkan menu yang belum sepenuhnya sesuai dengan selera anak-anak.
"Kadang makanannya kurang berasa, jadi anak-anak tidak selera. Apalagi kalau menunya telur, sering kali tidak habis. Karena tidak semua anak suka telur," ujarnya.
Ia berharap pelaksanaan program dievaluasi secara menyeluruh, termasuk efektivitas penggunaan anggaran.
"Kalau memang belum maksimal, lebih baik anggarannya dialihkan ke beasiswa atau pembangunan sekolah," katanya.
Pengalaman berbeda disampaikan DS, orang tua siswa di salah satu sekolah dasar swasta di Bontang.
Ia mengaku beberapa kali mendapati tempat bekal anaknya berisi makanan MBG saat pulang sekolah, sementara bekal yang dibawa dari rumah justru sudah habis dikonsumsi.
Menurut pengakuan anaknya, makanan MBG dipindahkan ke dalam tempat bekal karena wadah makanan program tersebut harus dikosongkan.
"Anak saya beberapa kali pulang ke rumah, tempat bekalnya malah diisi gurunya dengan menu MBG. Kata anak saya, omprengnya harus habis. Karena anak saya enggak suka MBG, jadi dia makan bekalnya, sedangkan menu MBG ditaruh di tempat bekal," tutur DS.
Banyak Makanan MBG Berakhir Menjadi Sisa
Pantauan Pranala.co di salah satu sekolah memperlihatkan guru tengah mengumpulkan sisa makanan MBG setelah jam makan selesai.
Seorang petugas sekolah yang enggan disebutkan namanya mengatakan makanan yang tidak tersentuh hampir selalu ditemukan setiap hari.
"Yang tidak disentuh sama sekali kami kumpulkan di satu tempat. Sayang kalau langsung dibuang. Biasanya bisa sampai 15 sampai 20 ompreng," ujarnya.
Menurutnya, makanan yang sudah dimakan sebagian juga masih dimanfaatkan agar tidak seluruhnya menjadi limbah.
"Kalau yang sudah dimakan sebagian, kami kumpulkan lalu dipakai untuk memberi makan ternak. Lumayan masih bisa dimanfaatkan," katanya.
Ia menilai banyaknya makanan yang tersisa lebih dipengaruhi perbedaan selera masing-masing siswa.
"Anak-anak kan beda-beda. Ada yang suka, ada yang tidak. Walaupun menunya tiap hari berbeda, tetap saja ada yang tidak dimakan," jelasnya. (*)















