SEJUMLAH guru di SDN 012 Bontang Selatan membagikan pengalaman mereka setelah mengalami gejala mual dan diare yang muncul usai mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (5/8/2026).
Meski mengalami keluhan serupa, mereka menegaskan belum dapat memastikan apakah kondisi tersebut benar-benar dipicu oleh makanan yang disajikan dalam program MBG.
Penyebab pasti insiden itu hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan pihak terkait.
Salah seorang guru berinisial SY mengaku sempat menikmati menu MBG sebelum merasakan gangguan pencernaan. Namun, ia mengingatkan bahwa beberapa hari sebelumnya dirinya memang sedang kurang sehat.
"Sebenarnya saya tidak tahu apakah penyebab diare itu karena MBG. Memang saya sempat makan, tapi beberapa hari ini saya juga sedang sakit, batuk, pilek, dan demam," ujarnya kepada Pranala.co, Kamis (6/8/2026).
SY menjelaskan, seusai menyantap MBG ia memilih pulang lebih awal untuk memeriksakan diri ke klinik. Saat itu belum muncul keluhan apa pun.
Gejala baru dirasakan setelah tiba di rumah.
"Waktu di klinik belum ada gejala apa-apa. Setelah sampai rumah baru terasa mules dan perih di perut," katanya.
Guru lainnya berinisial CT mengaku mengalami diare sekitar satu jam setelah makan MBG. Saat itu ia hanya mengalami buang air besar encer tanpa disertai mual.
Menurut CT, dua pekan sebelumnya ia memang sempat mengalami diare. Namun kondisinya sudah pulih sebelum mengonsumsi menu MBG.
Ia sempat menduga salah satu menu, yakni sambal, menjadi kemungkinan pemicu karena memiliki rasa yang berbeda dari biasanya.
"Saya sempat berpikir apakah karena sambalnya. Rasanya agak lain," ujarnya.
CT kemudian mengonsumsi obat diare dan obat lambung. Namun, keluhan justru berlanjut hingga malam hari dengan muncul rasa mual dan pahit di tenggorokan.
Keesokan harinya, diare mulai mereda meski kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Baik SY maupun CT mengatakan sebelum makan MBG mereka hanya mengonsumsi buah alpukat yang masih segar.
Guru lainnya, Ros, menceritakan suasana di sekolah ketika sejumlah siswa mulai mengalami keluhan.
Awalnya, seorang siswa meminta izin ke toilet karena merasa ingin muntah. Saat itu, Ros belum menghubungkan kondisi tersebut dengan makanan yang baru dikonsumsi.
"Saat itu ada siswa yang izin ke toilet karena ingin muntah. Saya tidak menyangka itu karena MBG," tuturnya.
Tak lama kemudian, laporan serupa datang dari beberapa kelas lain.
Ada siswa yang muntah di ruang kelas, sementara lainnya muntah di sekitar toilet sekolah. Ros mengaku ikut membantu membersihkan lokasi.
"Ada yang muntah di meja kelas, ada juga di depan toilet. Saya sempat bantu membersihkan," katanya.
Informasi mengenai keluhan siswa kemudian menyebar melalui grup komunikasi internal sekolah.
Ros selanjutnya menghubungi orang tua siswa melalui grup komite untuk memastikan apakah ada anak yang mengalami sakit perut setelah mengonsumsi MBG.
"Saya tanya ke orang tua, apakah ada anak yang setelah makan MBG mengeluh sakit perut. Ternyata ada beberapa," ujarnya.
Menurutnya, sebagian siswa mulai mengeluhkan gejala sekitar pukul 11.20 Wita atau tidak lama setelah makan siang. Sebagian lainnya baru merasakan keluhan setelah salat zuhur bahkan setelah tiba di rumah.
Hasil Uji Laboratorium Masih Ditunggu
Hingga Kamis (6/8/2026), sebagian besar siswa dilaporkan sudah berangsur membaik.
Ros menyebut masih ada dua siswa yang mengeluhkan sakit perut. Namun, keduanya tetap dapat mengikuti kegiatan belajar di sekolah dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit.
"Hanya ada dua siswa yang masih mengeluh sakit perut. Tapi tidak sampai dirawat dan tetap masuk sekolah," pungkasnya.
Pihak terkait masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab munculnya keluhan tersebut. Karena itu, hingga kini belum ada kesimpulan resmi yang menyatakan bahwa gejala mual dan diare dialami guru maupun siswa disebabkan oleh menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). (*)















