JUMLAH guru dan siswa yang mengalami gejala mual dan diare usai diduga mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang terus bertambah. Jika sebelumnya laporan hanya berasal dari SDN 012 Bontang Selatan, kini dua sekolah lain juga melaporkan kejadian serupa.
Laporan sementara yang diterima Kelurahan Tanjung Laut Indah mencatat kasus serupa terjadi di SD Muhammadiyah Bontang Utara dan PAUD Al Hikmah, sehingga total korban bergejala mencapai 24 orang.
Lurah Tanjung Laut Indah Elis Biantoro mengatakan pihaknya masih melakukan verifikasi terhadap seluruh laporan yang masuk.
"Ya laporan sementara yang kami terima ada tiga sekolah yang mengeluhkan kondisi mual dan diare. Sekarang saya mau kroscek dulu," ujar Elis Biantoro kepada Pranala.co, Kamis (6/8/2026), usai pertemuan dengan pihak SDN 012 Bontang Selatan dan SPPG Bontang Utara 2.
Berdasarkan data sementara, korban terdiri atas: SDN 012 Bontang Selatan: 11 siswa dan 7 guru; SD Muhammadiyah Bontang Utara: 1 orang; PAUD Al Hikmah: 5 orang.
Seluruhnya dilaporkan mengalami gejala yang serupa. "Kalau laporannya gejala yang dialami sama. Mual dan diare," katanya.
Dugaan Sementara Mengarah pada Menu Sayur
Dari informasi awal yang diterima pemerintah kelurahan, dugaan sementara mengarah pada menu sayur yang disajikan dalam program MBG.
Menurut Elis, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2 menjelaskan terdapat perubahan bahan dalam proses memasak. Santan disebut diganti menggunakan kemiri.
"Menurut pihak SPPG, jadi santan itu diganti dengan kemiri. Mungkin kurang matang atau bagaimana, sehingga kejadian seperti ini," jelasnya.
Meski begitu, ia menegaskan dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama munculnya gejala mual dan diare.
Hasil Uji Laboratorium Masih Ditunggu
Pemerintah bersama pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan.
Pengujian dilakukan untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi bakteri, kesalahan dalam proses pengolahan makanan, atau faktor lain yang menyebabkan puluhan guru dan siswa mengalami gangguan kesehatan.
"Tindak lanjutnya masih menunggu hasil uji lab sampel. Apakah karena bakteri atau hanya dari bumbu kemiri tadi. Itu yang akan jadi patokan kami," ujar Elis.
Ia menambahkan, setiap distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) telah mengikuti prosedur tetap sesuai standar operasional, termasuk kewajiban menyisihkan sampel makanan sebagai bahan pemeriksaan apabila terjadi insiden.
Kepala SPPG Bontang Utara 2, Muhammad Rezky, belum memberikan penjelasan rinci terkait jumlah penerima manfaat yang terdampak maupun kemungkinan penghentian sementara distribusi MBG di SDN 012 Bontang Selatan.
Ia hanya memastikan seluruh penanganan dilakukan sesuai standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
"Kami ikuti sesuai SOP saja. Datanya sudah kami sampaikan ke Koordinator BGN Wilayah Bontang," ujarnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan penghentian distribusi MBG di sekolah terdampak, Rezky memilih belum memberikan komentar.
"Saya belum dapat infonya. Nanti dulu ya, Pak," katanya.
Hingga Kamis (6/8/2026), penyebab pasti munculnya gejala mual dan diare pada puluhan guru dan siswa di tiga sekolah tersebut masih belum dapat dipastikan.
Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan Badan Gizi Nasional untuk menentukan penyebab kejadian sekaligus menetapkan langkah lanjutan terhadap pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis di wilayah Bontang. (*)















