PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan lebih dari setahun di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, jika Anda mengira program ini yang menjadi pahlawan utama di balik turunnya angka stunting di Ibu Kota Kalimantan Timur tersebut, Anda keliru.
Pemerintah Kota Samarinda menegaskan masyarakat tidak bisa serta-merta mengaitkan penurunan kasus stunting dengan program makan gratis ini. Indikator keberhasilannya dinilai belum terlihat jelas.
Kepala Dinas Kesehatan alias Diskes Samarinda, Ismed Kusasih, meminta semua pihak untuk tidak terburu-buru menilai dampak dari program bentukan pemerintah tersebut.
"Evaluasi mengenai pengaruh MBG terhadap penurunan stunting masih membutuhkan waktu," ujar Ismed.
Mengapa program yang menelan anggaran besar ini belum berdampak langsung? Jawabannya ada pada ketidaksesuaian sasaran utama di awal pelaksanaan.
Selama setahun terakhir, bantuan makanan bergizi ini justru lebih banyak dinikmati anak-anak usia sekolah. Padahal, kelompok yang paling kritis dan rentan mengalami stunting berada pada usia yang lebih muda.
Pemerintah daerah baru belakangan ini menggeser fokus program ke kelompok yang lebih membutuhkan. Karena perubahan arah ini baru seumur jagung, kontribusinya terhadap penurunan stunting belum bisa diukur secara konkret.
"Selama ini penerima manfaat MBG masih didominasi anak sekolah. Baru beberapa waktu terakhir sasaran mulai diarahkan kepada kelompok 3B," papar Ismed.
Faktanya, angka stunting di Samarinda saat ini memang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hanya saja, tren positif ini terjadi bukan karena faktor program makan gratis yang baru berjalan setahun.
Berdasarkan data resmi e-PPGBM, prevalensi stunting di Samarinda berhasil ditekan hingga berada di kisaran 17 persen pada 2025. Angka ini membaik dibanding 2024 yang saat itu masih berada di atas 20 persen.
Penurunan ini murni didorong keberhasilan program-program kesehatan lain yang sudah lebih dulu mapan. Di antaranya adalah intervensi gizi sejak dini serta optimalisasi layanan kesehatan ibu dan anak di posyandu.
"Penurunan ini dinilai sebagai indikator positif dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam percepatan penanganan stunting," tegasnya.
Capaian stunting di Samarinda saat ini sebenarnya sudah melampaui target nasional yang mematok angka di bawah 21 persen. Meski begitu, pemerintah daerah berkomitmen untuk merombak total pelaksanaan program MBG.
Langkah ini diambil agar ke depannya program makan gratis bisa berjalan sinkron dengan upaya penanganan stunting di lapangan. Dinas Kesehatan akan memastikan efektivitas program ini benar-benar bisa dinilai secara objektif setelah fokus menyasar kelompok yang tepat.
Ismed memastikan langkah pengawasan ketat akan terus berjalan demi masa depan anak-anak di Samarinda.
"Kami akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap seluruh program yang berkaitan dengan penanganan stunting, termasuk MBG," tegas Ismed. (*)

















