DUGAAN Keracunan Makan Bergizi Gratis alias MBG masih menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab puluhan siswa dan guru mengalami mual serta diare baru diperkirakan keluar paling cepat, Senin (10/8/2026).
Kepala Diskes Bontang, dr. Toetoek Pribadi Ekowati, menegaskan proses laboratorium membutuhkan tahapan ilmiah sehingga tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
"Pemeriksaan laboratorium tidak sesederhana itu. Perlu waktu untuk memastikan penyebabnya," ujar Toetoek saat dihubungi, Sabtu (8/8/2026).
Toetoek menjelaskan, sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2 baru diterima Diskes, Kamis (6/8/2026).
Sampel yang diperiksa meliputi nasi, sayur, sambal, serundeng, dan ayam dalam kondisi beku. Sehari kemudian, Jumat (7/8/2026), seluruh sampel dimasukkan ke inkubator untuk menjalani proses biakan mikrobiologi.
Pemeriksaan itu dilakukan guna mendeteksi kemungkinan adanya bakteri penyebab keracunan pangan, seperti: Salmonella; Shigella; Escherichia coli (E. coli); Staphylococcus.
"Untuk mengevaluasi hasil biakan, diperlukan waktu minimal dua kali 24 jam," jelas Toetoek.
Dengan proses tersebut, hasil laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui pada awal pekan depan.
Menurut Toetoek, keluarnya hasil laboratorium bukan berarti penanganan kasus selesai. Sebaliknya, hasil tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan tindakan pengendalian agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Hasil laboratorium justru menjadi dasar untuk menentukan langkah pengendalian, termasuk penghentian sumber risiko, pembinaan dapur, serta pelaporan akhir kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan," katanya.
Secara umum, penanganan dugaan keracunan pangan dilakukan melalui beberapa tahapan, yakni pelayanan terhadap korban, penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan laboratorium, pemantauan perkembangan kasus, hingga pengendalian faktor risiko.
Setelah hasil laboratorium diterima, Dinkes akan menghubungkannya dengan hasil penyelidikan epidemiologi yang telah dilakukan.
Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan apakah agen penyebab yang ditemukan sesuai dengan gejala yang dialami korban, waktu munculnya keluhan, serta makanan yang dikonsumsi.
"Dari hasil tersebut, kami akan menyusun kesimpulan investigasi, termasuk kemungkinan hubungan antara kejadian keracunan dengan kontaminasi mikrobiologis pada menu tertentu," tambah Toetoek.
Selain menunggu hasil laboratorium, Diskes Bontang juga menyiapkan pemeriksaan menyeluruh terhadap dapur penyedia MBG.
Pemeriksaan meliputi: higiene dan sanitasi dapur; kualitas air; bahan baku pangan; proses pengolahan makanan; suhu penyimpanan; distribusi makanan; kebersihan peralatan; kebersihan penjamah makanan.
Di sisi lain, Diskes akan terus memantau kondisi seluruh korban hingga dinyatakan pulih dan memastikan tidak muncul kasus baru.
Seluruh hasil investigasi nantinya akan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi sebagai tindak lanjut penanganan dugaan kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan. Koordinasi juga dilakukan bersama puskesmas, BPOM, pihak sekolah, dan pengelola dapur MBG.
"Semua itu penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang," tutup Toetoek.
Kasus ini bermula pada Rabu (5/8/2026) ketika puluhan siswa dan guru dari empat sekolah di Kota Bontang mengalami mual dan diare setelah mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan SPPG Bontang Utara 2.
Sebagai langkah pencegahan, operasional dapur MBG tersebut resmi dihentikan sementara sejak Jumat (7/8/2026) hingga waktu yang belum ditentukan sambil menunggu hasil investigasi lengkap dari Dinas Kesehatan. (*)















