PENYEBAB keluhan muntah dan diare yang dialami sejumlah siswa serta guru penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang hingga kini belum dipastikan. Pemerintah bersama pihak sekolah masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diambil.
Meski muncul dugaan awal terkait penggunaan bumbu kemiri dalam menu sayur, pihak sekolah menegaskan informasi tersebut masih sebatas kemungkinan dan belum dapat dijadikan kesimpulan.
Staf Tata Usaha SDN 012 Bontang Selatan, ST, mengatakan pemeriksaan masih berlangsung sehingga pihak sekolah belum bisa memberikan penjelasan lebih rinci mengenai penyebab pasti insiden tersebut.
Menurut informasi awal yang diterima dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), keluhan siswa diduga berkaitan dengan penggunaan kemiri sebagai pengganti santan dalam menu sayur.
"Penjelasan dari SPPG, kemungkinan dari bumbu kemiri yang digunakan sebagai pengganti santan. Kemiri itu kalau tidak diolah dengan baik bisa menyebabkan sakit perut dan mual," ujar ST, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan kemiri merupakan bahan pangan yang membutuhkan proses pengolahan khusus, termasuk disangrai hingga benar-benar matang. Jika proses itu tidak optimal, bahan tersebut dapat memicu gangguan pencernaan pada sebagian orang.
Meski demikian, dia menilai kecil kemungkinan kejadian tersebut merupakan keracunan makanan.
"Kalau keracunan, seharusnya semua penerima MBG mengalami gejala yang sama. Ini tidak, jadi kemungkinan lebih ke ketidakcocokan atau semacam alergi," katanya.
Setiap hari SDN 012 Bontang Selatan menerima 411 paket MBG yang terdiri atas 388 paket untuk siswa dan 23 paket bagi tenaga pendidik.
Dari jumlah tersebut, tercatat 18 orang mengalami keluhan, terdiri atas 11 siswa dan tujuh guru. Rinciannya, enam siswa mengalami muntah, sedangkan lima siswa lainnya mengalami diare.
Setelah menerima laporan dari orang tua, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan SPPG. Tim penyedia makanan kemudian mendatangi sekolah untuk melakukan pengecekan awal.
"Jadi mereka langsung gerak cepat," ujar ST.
Meski Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya menginstruksikan penghentian sementara distribusi MBG di sejumlah lokasi yang terdampak, SDN 012 Bontang Selatan mengaku belum menerima pemberitahuan resmi.
Karena itu, pelaksanaan Program MBG di sekolah tersebut masih berjalan seperti biasa.
"Kalau memang nanti dihentikan, kami tidak masalah. Kami akan informasikan kepada orang tua agar anak-anak membawa bekal dari rumah," katanya.
Sebagai langkah pencegahan, pihak sekolah mengaku rutin memeriksa kondisi makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Siswa juga terus diingatkan untuk mengecek aroma maupun kondisi makanan sebelum dikonsumsi.
"Kalau tidak layak, jangan dimakan," ujarnya.
Wali Kota: Hasil Laboratorium Jadi Penentu
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memastikan penanganan dilakukan secara bersama oleh Dinas Kesehatan dan Badan Gizi Nasional.
Menurutnya, sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut telah diperiksa di laboratorium kesehatan daerah.
"Dinas Kesehatan dan BGN sudah melakukan tindakan. Sampel makanan yang diduga bermasalah sudah diuji di laboratorium kesehatan daerah," kata Neni usai menghadiri kegiatan di Pendopo Rumah Jabatan, Kamis (6/8/2026).
Ia mengatakan hasil laboratorium akan menjadi dasar untuk mengetahui penyebab pasti, baik dari aspek biologis maupun kimia.
Menurut Neni, pemeriksaan dilakukan di Kota Bontang sehingga hasilnya diharapkan dapat segera diketahui.
"Beberapa bahan makanan memang ada yang disimpan hingga satu minggu di kulkas. Kalau terjadi keracunan atau hal lain, bisa dilihat dari hasil uji lab, baik secara biologi maupun kimia. Kita tunggu saja hasilnya," ujarnya.
Neni menilai secara umum prosedur pengolahan makanan di SPPG Bontang Utara 2 telah dijalankan sesuai standar yang berlaku.
Ia menyebut setiap menu disusun dengan pendampingan tenaga gizi serta memperhatikan kebutuhan nutrisi penerima.
Selain itu, prosedur kebersihan juga diterapkan, termasuk penggunaan masker dan sarung tangan oleh petugas selama proses pengolahan makanan.
"Hygiene sudah dijaga, mereka menggunakan masker, sarung tangan, itu sudah sesuai protap," katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan masih banyak faktor yang perlu ditelusuri sebelum menarik kesimpulan, termasuk kemungkinan kontaminasi maupun kondisi kesehatan masing-masing penerima makanan.
Pemerintah Kota Bontang juga telah menurunkan tim surveilans untuk melakukan penelusuran lapangan sekaligus memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur.
"Kita tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi. Tapi kalau ada insiden, pemerintah harus hadir, dan itu sudah kita lakukan," tegas Neni.
Ia memastikan pengawasan terhadap distribusi MBG terus dilakukan secara ketat, termasuk pengecekan rutin di dapur SPPG serta pengaturan waktu distribusi makanan agar tetap layak dikonsumsi. (*)

![Para siswa SDN 012 Bontang Selatan tetap memakan MBG meski sehari sebelumnya sebagian guru dan rekannya alami muntah dan diare, Kamis (6/8/2026). [Fahrul/Pranala.co]](/api/watermark-image?src=%2Fuploads%2F2026%2F08%2F3bf9df6f-22a5-4af0-9503-66b866a627f7.webp&wm=%2Fuploads%2F2026%2F07%2F601065b6-7686-4aac-872e-59753a780678.webp&op=40&sz=50&pos=bottom&pt=10&pr=10&pb=10&pl=10)













