MAKAN Bergizi Gratis alias MBG Bontang kembali menjadi perhatian setelah kasus dugaan mual dan diare yang menimpa puluhan siswa dan guru di tiga sekolah. Pascakejadian itu, sebagian orangtua memilih tidak lagi mengizinkan anak mereka mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan lebih memilih menyiapkan bekal dari rumah.
Keputusan tersebut muncul meski penyebab pasti insiden yang terjadi Rabu (5/8/2026) masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari pihak berwenang.
Salah satu wali murid SDN 012 Bontang Selatan, RD (41), mengaku masih trauma dengan kejadian yang dialami sejumlah siswa di sekolah anaknya.
Ia mengatakan, keselamatan anak menjadi alasan utama memilih menyiapkan makanan sendiri dari rumah, meski harus mengeluarkan biaya tambahan.
"Lebih baik saya siapkan sendiri bekalnya dari rumah. Tidak mengapa saya harus korban biaya. Saya tidak mau ambil risiko. Ini untuk anak saya," ujar RD kepada Pranala.co, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, sebelum insiden terjadi, anaknya juga sering tidak menghabiskan makanan MBG. Bahkan, makanan tersebut lebih sering dibawa pulang dalam kondisi masih utuh.
RD menegaskan dirinya tidak menolak program MBG. Ia tetap mendukung program pemerintah tersebut, namun menganggap keputusan mengonsumsi atau tidak tetap menjadi hak setiap orangtua.
"Saya tidak benci dengan MBG. Saya dukung. Tapi kan itu pilihan orangtua masing-masing."
RD menyebut pihak sekolah telah mengumumkan penghentian sementara penyaluran MBG di SDN 012 Bontang Selatan mulai Jumat (7/8/2026).
Orangtua pun diminta menyiapkan bekal sendiri untuk anak-anak mereka hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
"Belum tahu sampai kapan MBG distop. Karena pengumuman dari sekolah baru hari ini disampaikan," katanya.
Belum ada kepastian kapan distribusi MBG akan kembali dilakukan. Keputusan lanjutan masih menunggu hasil investigasi serta pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
Meski muncul kekhawatiran, tidak semua siswa kehilangan kepercayaan terhadap program tersebut.
Ar (9), siswa SDN 012 Bontang Selatan, mengaku tetap bersedia mengonsumsi MBG apabila program kembali berjalan. Namun kini ia akan lebih teliti sebelum menyantap makanan yang diterimanya.
"Saya periksa dulu om. Kalau aroma atau rasanya aneh, saya tidak makan. Karena pesan mama juga seperti itu," ujarnya.
Sikap serupa juga terlihat dari keluarga Na, orangtua siswa di salah satu sekolah menengah kejuruan di Kota Bontang.
Ia mengatakan anaknya hingga kini masih mengonsumsi MBG seperti biasa, bahkan terkadang menghabiskan makanan milik temannya yang tidak dimakan.
"Sampai hari ini anak saya masih makan MBG. Malah nunggu punya temannya yang ngga dimakan," katanya.
Meski demikian, Na mengakui pernah menemukan wadah ompreng MBG yang berbau sehingga membuat anaknya enggan menyantap makanan tersebut.
"Kalau sudah bau tempatnya dia ngga mau makan. Tapi kalau ngga bau, masalah menu apa aja yang dikasih pasti habis," tuturnya.
Sebelumnya, sebanyak 24 orang mengalami gejala mual dan diare setelah diduga mengonsumsi MBG yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2 pada Rabu (5/8/2026).
Rinciannya terdiri atas: 11 siswa SDN 012 Bontang Selatan; 7 guru SDN 012 Bontang Selatan; 1 orang dari SD Muhammadiyah; 5 orang dari PAUD Al Hikmah.
Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan. Pemerintah bersama pihak terkait masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui sumber masalah sekaligus menentukan langkah lanjutan terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah Bontang. (*)















