KELANGKAAN Pertalite di Bontang kian parah hingga memukul perekonomian pelaku usaha kecil, pekerja informal, serta pengemudi ojek online dalam beberapa pekan terakhir. Antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) serta melambungnya harga BBM eceran membuat biaya operasional warga membengkak drastis.
Kondisi serba sulit ini dirasakan langsung oleh Mirhan, seorang pengumpul biji kakao kering yang menggantungkan usahanya pada pasokan Pertalite. Ia harus berkeliling ke berbagai SPBU demi mendapatkan bahan bakar subsidi, sementara stok di tingkat pengecer mulai menghilang.
"Kalaupun ada, di eceran Pertamax harganya sudah Rp20 ribu per botol. Padahal di SPBU cuma Rp12.500 per liter. Yang ada kita tekor di ongkos," ujar Mirhan saat ditemui di Bontang.
Mirhan mengeluhkan aturan pembatasan pembelian Pertalite yang dipatok maksimal 40 liter per hari. Angka tersebut jauh dari kata cukup untuk menopang rute operasionalnya hingga ke Samarinda.
Aktivitas mengumpulkan kakao dari kampung ke kampung menuntut efisiensi biaya. Selisih harga antara BBM subsidi dan non-subsidi memotong margin keuntungan usaha kecilnya secara signifikan.
"Kalau terus-menerus pakai Pertamax, keuntungan sangat tipis, bahkan kadang hanya balik modal," katanya menambahkan.
Dampak kelangkaan Pertalite di Bontang juga mengancam penghasilan pengemudi ojek online. Rijal, seorang driver ojol setempat, terpaksa mengantre di SPBU sejak subuh sebelum jam operasional dimulai.
Upaya tersebut kerap berujung nihil ketika stok di tanki SPBU habis lebih cepat. Tanpa adanya penyesuaian tarif perjalanan, beralih ke Pertamax otomatis memangkas pendapatan bersihnya harian.
"Kalau kosong, mau tidak mau isi Pertamax. Tarif ojek tidak naik, tapi pengeluaran bensin melonjak," tutur Rijal.
Keterbatasan transportasi publik di Kota Bontang memperburuk ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. Para pekerja sektor informal dan tenaga pendidik terancam terhambat aktivitas harian jika pasokan tidak segera dipulihkan.
Lisna, seorang guru swasta di Bontang, meminta pihak berwenang segera turun tangan mengatasi gangguan distribusi BBM subsidi ini.
"Kalau Pertalite susah didapat, bagaimana kami mau kerja? Angkutan umum di Bontang sangat terbatas. Mudah-mudahan segera ada solusi dari pemerintah dan Pertamina," tegas Lisna. (*)















