LIMA titik penyaluran baru BBM subsidi di Kota Balikpapan disiapkan untuk memecah antrean yang selama ini menumpuk di sejumlah SPBU. Namun, penambahan titik tersebut pada tahap awal belum otomatis diikuti penambahan kuota BBM subsidi.
Sales Area Manager Pertamina Retail Kaltimtara, Narotama Aulia Fazri, mengatakan lima SPBU tersebut akan menggunakan kuota yang tersedia sambil menunggu keputusan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) atas usulan tambahan kuota dari Pemerintah Kota Balikpapan.
“Untuk jalan awal mungkin kita nanti pakai kuota yang sama setelah ada keputusannya dari BPH Migas,” ujar Narotama, Senin (24/8/2026).
Menurut Narotama, Pemerintah Kota Balikpapan telah mengajukan tambahan kuota BBM subsidi kepada BPH Migas. Usulan itu mencakup Biosolar dan Pertalite.
Pertamina berharap permintaan tersebut mendapat persetujuan agar ketersediaan kuota tetap mampu menopang kebutuhan penyaluran di sejumlah titik baru.
Narotama menyebut kondisi kuota Pertalite di Balikpapan saat ini sebenarnya sudah berada dalam posisi over. Meski begitu, Pertamina masih menilai kondisi tersebut dapat dikendalikan untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.
“Insya Allah kita masih cukup. Untuk yang Pertalite kita over, tapi masih bisa terkontrol,” ujarnya.
Tambahan kuota tetap dinilai diperlukan apabila penataan titik penyaluran terus berjalan. Jika BPH Migas menyetujui usulan Pemkot Balikpapan, tambahan volume tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan pada titik-titik baru.
Tujuan Utama Memecah Antrean SPBU
Penambahan lima titik penyaluran BBM subsidi bukan semata-mata untuk menambah volume BBM yang tersedia. Skema tersebut dirancang untuk membagi konsentrasi konsumen agar tidak seluruhnya mengarah ke SPBU tertentu.
Narotama menjelaskan pembagian dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi asal konsumen. Salah satu contohnya berada di Balikpapan Timur.
Selama ini, konsumen dari wilayah tersebut banyak mengantre di SPBU Stalkuda dan Sepinggan karena belum tersedia titik penyaluran di kawasan Balikpapan Timur.
“Tujuannya memecah antrean. Dari titik-titik yang ada dipecah. Di Balikpapan Timur sebelumnya belum ada, kenapa motor itu ngantre di SPBU Stalkuda sama SPBU Sepinggan, ya kita pecah,” jelasnya.
Dengan hadirnya titik penyaluran di Balikpapan Timur, konsumen dari kawasan tersebut diharapkan tidak lagi terkonsentrasi di dua SPBU tersebut.
Pola serupa diterapkan di sejumlah wilayah lain di Balikpapan.
Antrean kendaraan roda dua yang cukup padat di kawasan Karang Anyar akan diurai melalui penyaluran di kawasan Kebun Sayur.
Untuk konsumen dari sekitar Kilometer 4 dan Kilometer 9, pemecahan antrean dilakukan melalui titik penyaluran di Green City dan Majestic.
Skema tersebut diharapkan membuat antrean lebih tersebar sehingga tidak terpusat pada satu SPBU.
Namun, kemampuan titik-titik baru dalam memenuhi kebutuhan konsumen tetap bergantung pada volume kuota yang tersedia.
Penambahan titik penyaluran BBM subsidi juga memunculkan pertanyaan apakah kebijakan tersebut otomatis akan mengurangi kemacetan di ruas jalan sekitar SPBU.
Narotama tidak memastikan dampak tersebut. Menurut dia, kewenangan Pertamina dalam skema ini berada pada proses penyaluran BBM di dalam area SPBU.
“Kalau masalah macet atau enggak, Pertamina enggak bisa menjawab, karena yang kita lakukan adalah menyalurkan di dalam SPBU-nya,” tutur dia.
Dengan demikian, keberhasilan pemecahan antrean BBM subsidi tidak serta-merta dapat disamakan dengan penyelesaian persoalan kemacetan di jalan.
Fokus Pertamina berada pada pengaturan dan pelayanan penyaluran BBM di dalam titik SPBU yang menjadi bagian dari skema tersebut.
Pertamina juga memastikan penyaluran BBM subsidi tetap mengikuti ketentuan Pemerintah Kota Balikpapan.
Narotama mengatakan pihaknya akan menjalankan surat edaran Pemkot Balikpapan mengenai pengaturan jam operasional penyaluran BBM subsidi.
“Kita komitmen dan patuh terhadap surat edaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Balikpapan,” tegasnya. (*)















