Pranala.co, BONTANG — Kabar mengejutkan datang dari dunia pendidikan Kota Bontang. Dua pelajar terkonfirmasi positif menggunakan narkoba. Temuan ini kembali membuka mata banyak pihak: penyalahgunaan zat berbahaya bisa menjerat siapa saja, termasuk anak sekolah.
Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, langsung merespons. Ia menegaskan bahwa penanganan kasus ini tidak boleh dilakukan dengan pendekatan hukuman. Yang diutamakan adalah pemulihan kondisi anak.
“Dua pelajar itu harus direhabilitasi dulu. Pendidikan tetap bisa berjalan melalui homeschooling. Sekarang sudah banyak media pembelajaran, termasuk Zoom,” ujar Neni, Jumat (28/11/2025).
Menurutnya, hak belajar kedua anak itu tetap harus dijaga. Meski menjalani rehabilitasi, mereka tetap berhak mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan metode yang lebih fleksibel.
“Yang penting sehat dulu. Mereka tetap punya hak mendapatkan pendidikan,” tegasnya.
Kasus ini bukan yang pertama. Survei Pemkot Bontang mencatat sekira 0,5 persen pelajar di kota tersebut pernah tersangkut kasus narkoba. Selain narkotika, pemerintah juga menemukan masalah lain di kalangan remaja, seperti penyalahgunaan lem hingga perilaku pergaulan berisiko.
Sebagai langkah pencegahan, Pemkot Bontang terus memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Program Duta Anti Narkoba menjadi salah satu strategi. Melalui program tersebut, para siswa ditunjuk sebagai penggerak kampanye antinarkoba di lingkungan sekolah.
“Mereka menjadi aktor penggerak untuk mengajak teman-temannya say no to drugs,” kata Neni.
Namun ia mengingatkan, keberhasilan rehabilitasi sangat bergantung pada niat dari dalam diri anak. Tanpa kemauan kuat untuk pulih, risiko kambuh akan tetap mengintai.
“Kalau tidak tertanam keinginan untuk sembuh, akan sulit. Tapi rehabilitasi harus tetap dilakukan,” ujarnya.
Pemkot Bontang memastikan proses pendampingan dilakukan secara menyeluruh, termasuk melalui pendekatan psikologi klinis.
“Syukurlah, di Bontang permasalahan ini bisa kita pantau terus,” ucap Neni.
Kasus ini menjadi alarm bagi orangtua, guru, dan masyarakat. Edukasi tentang bahaya narkoba harus terus disuarakan. Sementara anak yang terjerat kasus serupa perlu ditangani dengan pendekatan yang manusiawi, memulihkan, dan tetap menjamin hak mereka atas pendidikan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















