NIAT warga Bontang untuk merasa lebih aman dengan pantauan kamera pengawas di setiap sudut kota tampaknya harus tertunda. Fakta mengejutkan terungkap: dari 66 titik CCTV yang sudah gagah terpasang, ternyata baru 11 unit yang benar-benar “melek” alias aktif.
Sisanya? Sebanyak 55 kamera masih dalam kondisi mati suri. Padahal, keberadaan mata digital ini sangat dinantikan untuk memantau keamanan jalanan hingga menjadi bukti otentik bagi kepolisian jika terjadi tindak kriminal.
Kepala Diskominfo Bontang, Andi Hasanuddin Akmal, tidak menampik kondisi tersebut. Ia mengakui pemanfaatan CCTV di Kota Taman memang belum berjalan optimal karena terganjal masalah teknis dan administrasi yang cukup pelik.
“Dari 66 titik, baru 11 yang aktif. Sisanya masih menunggu proses koneksi ke jaringan utama atau jaringan metro,” ungkap Andi saat dikonfirmasi.
Mengapa infrastruktur sepenting ini bisa mandek? Usut punya usut, kendalanya bukan pada anggaran yang tidak ada, melainkan hambatan administratif di tingkat penyedia layanan.
Rencana awal pengadaan melalui e-katalog sejak Februari lalu rontok. Penyebabnya adalah persoalan internal di perusahaan penyedia yang sedang mengurus pergantian komisaris di pusat. Hal sepele bagi orang awam, namun fatal dalam sistem birokrasi pengadaan barang dan jasa.
“Proses e-katalog tidak bisa berjalan kemarin karena kendala itu. Sekarang baru masuk tahap purchasing,” jelasnya lagi.
Andi menjelaskan, mengaktifkan puluhan CCTV kota tidak semudah memasang internet di rumah. Dibutuhkan jaringan metro sebagai tulang punggung. Jaringan ini ibarat jalan tol khusus untuk data video yang super besar.
Kebutuhan bandwidth-nya pun jauh di atas Wi-Fi publik. Namun, ada keuntungan besar jika jaringan ini sudah rampung. Data rekaman tidak hanya bertahan hitungan hari, tapi bisa disimpan hingga dua bulan.
“Biasanya polisi butuh rekaman seminggu ke belakang. Dengan sistem ini, kami bisa simpan sampai dua bulan. Jadi sangat membantu penyelidikan,” tambah Andi.
Meski sempat meleset dari jadwal akibat pergantian pimpinan di pihak penyedia, Diskominfo tetap enggan berpindah ke lain hati. Mereka bersikeras mempertahankan penyedia yang ada karena rekam jejak kualitasnya yang sudah teruji di tingkat provinsi.
Kini, setelah badai administrasi mulai reda, Diskominfo optimistis seluruh titik CCTV akan segera menyala dalam waktu dekat. Harapannya satu: tak ada lagi sudut kota yang luput dari pantauan, demi keamanan warga Bontang yang lebih terjamin. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















