TAHUN 2026 berjalan tidak mudah bagi para peternak sapi di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Di tengah dinginnya kebijakan efisiensi anggaran, kehangatan bantuan yang selama ini menjadi penyambung asa tiba-tiba terputus. Bantuan bibit sapi yang menjadi modal utama pengembangan usaha kini resmi dihapus dari daftar belanja pemerintah.
Bagi belasan kelompok peternak di kota ini, kabar tersebut bagai petir di siang bolong. Jalur bantuan, baik dari kantong Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota maupun sokongan pemerintah provinsi, kini tertutup rapat.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang, drh Riono, membenarkan kondisi pelik ini. Ia menyebut kebijakan efisiensi sebagai alasan utama di balik hilangnya anggaran pengadaan ternak besar tersebut.
“Untuk tahun ini bantuan bibit sapi tidak ada sama sekali. Semua karena dampak efisiensi, termasuk dari provinsi juga tidak ada,” ujar Riono saat ditemui, Kamis (4/6/2026).
Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi tahun lalu. Pada 2025, DKP3 Bontang masih mampu mengucurkan dana segar sekitar Rp200 juta. Anggaran tersebut dikonversi menjadi 13 ekor sapi yang didistribusikan kepada kelompok peternak sebagai modal awal.
Dari modal awal itulah rahim-rahim sapi di Bontang melahirkan anak, memutar roda ekonomi, dan memberi napas bagi dapur para peternak lokal. Kini, mesin penggerak itu terpaksa berhenti berputar.
Saat ini tercatat ada 16 kelompok peternak sapi yang masih aktif menggantungkan hidup dari aroma jerami dan rumput potong. Riono memastikan, meski tangki bantuan kosong, lembaganya tidak akan lepas tangan begitu saja.
Saban tiga bulan sekali, para peternak ini tetap dikumpulkan. Mereka diajak duduk bersama untuk mengevaluasi populasi yang tersisa di dalam kandang.
“Kami tetap lakukan monitoring. Misalnya, dalam tiga bulan sudah lahir berapa, ada yang mati berapa, atau yang dijual berapa. Itu penting untuk melihat perkembangan usaha mereka,” kata Riono memaparkan langkah bertahannya.
Dapur anggaran DKP3 memang sedang tidak baik-baik saja. Pemangkasan besar-besaran membuat kas yang tersisa hanya cukup untuk membiayai rutinitas harian kantor.
“Anggaran kami banyak terpangkas. Yang ada saat ini hanya untuk operasional saja,” ucapnya dengan nada pasrah namun tegas.
Pemkot Bontang memang tidak sepenuhnya menutup mata. Sebagai gantinya, sisa anggaran dialihkan untuk komoditas yang lebih murah dengan skala yang sangat terbatas. Melalui APBD kota, dialokasikan 12 ekor kambing dan 600 ekor ayam petelur. Sementara pemerintah provinsi mengirim bantuan berupa beberapa ekor domba.
Namun, bagi peternak sapi, kambing dan ayam tentu punya hitungan ekonomi yang jauh berbeda. Skala ekonomi sapi jauh lebih besar dalam menjamin ketahanan pangan daging di kota industri ini.
Di akhir penjelasannya, Riono menegaskan komitmen moral para aparatur di lapangan. Bagi mereka, hilangnya angka di lembaran anggaran tidak boleh menyurutkan pendampingan kepada peternak yang sedang terjepit situasi sulit.
“Mau ada atau tidak ada anggaran, pembinaan tetap kami jalankan karena itu merupakan tugas pokok dan fungsi kami,” pungkas Riono menutup percakapan. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















