JAGAT maya mendadak riuh oleh beredarnya sebuah dokumen rahasia. Lembaran yang belakangan terkonfirmasi sebagai memo internal PT Kaltim Prima Coal (KPC) itu membuka tabir kelam di area pertambangan batubara terbesar tersebut.
Pihak manajemen PT KPC pun akhirnya memilih bersikap terbuka. Kasus kecelakaan kerja fatal yang merenggut nyawa pekerja itu diakui memang benar-benar terjadi.
General Manager External Affairs dan Sustainable Development (ESD) PT KPC, Wawan Setiawan, menyayangkan dokumen rahasia tersebut bisa tersebar luas ke ruang publik.
Wawan menegaskan, memo tersebut sebenarnya bersifat mengikat ke dalam. Isinya berupa instruksi tegas agar seluruh staf tidak mendokumentasikan atau menyebarkan informasi internal ke pihak luar.
“Kami belum tahu dan lagi mengecek siapa sebetulnya yang meloloskan, menyebarkan, dan lain-lain,” ujar Wawan saat memberikan konfirmasi kepada Pranala.co, Sabtu (30/5/2026).
Terlepas dari polemik bocornya dokumen, Wawan memastikan fokus utama perusahaan saat ini adalah kemanusiaan. Manajemen langsung bergerak mendampingi keluarga korban sejak detik pertama menerima laporan kepulangan sang pekerja.
Rasa duka mendalam membayur manajemen. Pendampingan penuh diberikan, mulai dari pengurusan seluruh berkas administrasi hingga mengantar jenazah ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
“Kami mendampingi di pagi hari bersama keluarga, menyampaikan ikut berduka, dan mendampingi hingga pemakaman untuk memastikan semuanya berjalan lancar,” tutur Wawan, mencoba meredam spekulasi liar yang telanjur menggelinding di masyarakat.
Saat disinggung mengenai kronologi dan penyebab utama insiden maut tersebut, Wawan enggan berbicara terlalu detail. Pihaknya sengaja membatasi informasi demi menjaga perasaan keluarga yang tengah terpukul hebat.
Meski begitu, ia memberikan sedikit gambaran berdasarkan temuan awal di lapangan. Diduga kuat ada tindakan berisiko yang diambil korban sesaat sebelum peristiwa nahas itu terjadi.
“Kelihatannya pada saat kejadian, ada langkah dari korban yang memang berisiko sehingga kemudian terjadi keadaan seperti yang kita tidak harapkan. Kejadian ini tentu harus menjadi pelajaran dalam bekerja,” urainya.
Inspektur Tambang Turun Tangan
Buntut dari insiden ini, PT KPC langsung melayangkan laporan resmi kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), khususnya Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba).
Prosedur ketat langsung diberlakukan. Dalam waktu dekat, Tim Inspektur Tambang dijadwalkan terbang menuju lokasi untuk menggelar investigasi menyeluruh demi mencari fakta objektif.
Guna mempermudah proses penyelidikan dan mencegah risiko susulan, manajemen mengambil keputusan besar. Seluruh aktivitas operasional di area tempat kejadian perkara (TKP) dihentikan sementara waktu.
Sikap tegas ini diambil bukan tanpa alasan. Publik kini tengah menyoroti standar keselamatan kerja di raksasa tambang ini. Pasalnya, ini merupakan kecelakaan kerja fatal kedua yang terjadi dalam kurun waktu yang relatif berdekatan, setelah kasus serupa pada Januari lalu.
Rentetan tragedi ini menjadi alarm bagi manajemen. Wawan menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam dan sedang merumuskan pembenahan total pada sistem keselamatan perusahaan.
“Secara khusus, manajemen sedang melakukan satu langkah yang strategis dan progresif untuk memastikan ke depan hal-hal yang bersifat fatality ini tidak terjadi lagi,” tegas Wawan. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














