SEBUAH kabar baik berembus dari pesisir Kalimantan Timur (Kaltim). Rumah bagi salah satu populasi penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di Indonesia, Kabupaten Berau, kini dilaporkan berada dalam kondisi aman.
Hasil survei terbaru menunjukkan habitat peneluran satwa langka ini berstatus hijau. Artinya, ekosistem pesisir di sana masih sangat mendukung bagi kelangsungan hidup hewan purba ini.
Survei berkala ini dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Tim gabungan menyisir sejumlah titik krusial. Mulai dari Pulau Mataha, Bilang-bilangan, Sangalaki, Derawan, Teluk Sulaiman, hingga Balikukup.
Menariknya, pemantauan kali ini tidak hanya mengandalkan pengamatan mata telanjang. Tim di lapangan juga menerbangkan pesawat nirawak (drone) untuk memetakan populasi dari udara.
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menyebutkan bahwa Berau merupakan bagian penting dari bentang laut Sulu-Sulawesi. Kawasan ini masuk dalam Segitiga Terumbu Karang Dunia yang menjadi jalur migrasi penting berbagai spesies laut.
“Survei ini mencakup habitat peneluran, pemantauan populasi dengan teknologi pesawat nirawak, hingga survei persepsi masyarakat pesisir,” ujar Ilman.
Titik balik sesungguhnya dari konservasi ini berada di tangan masyarakat lokal. Sisi humanis ini terlihat dari hasil wawancara mendalam terhadap 75 nelayan di berbagai pulau.
Dulu, perburuan penyu dan penjarahan telur sempat menjadi momok menakutkan di kawasan ini. Namun, benteng perlindungan kini justru lahir dari kesadaran para nelayan sendiri.
Hasil survei mencatat angka yang luar biasa: 98 persen nelayan sudah mengetahui bahwa memburu penyu adalah tindakan ilegal yang melanggar hukum.
Sebagian besar nelayan mengaku kini lebih sering berpapasan dengan penyu hijau dan penyu sisik di laut maupun di tepi pantai sepanjang tahun. Mereka merasakan sendiri bagaimana populasi satwa eksotis ini mulai merangkak naik.
Perubahan paradigma ini dipicu oleh penegakan hukum yang semakin ketat, pengawasan intensif, serta program edukasi yang menyentuh akar rumput.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim, Irhan Hukmaidy, membeberkan data yang menggembirakan dari hasil pemetaan fisik pantai.
Dari 27 titik pengamatan yang disurvei, sebanyak 26 titik masuk dalam kategori hijau atau sangat sesuai sebagai lokasi peneluran penyu.
“Lokasi-lokasi tersebut memiliki karakteristik pantai yang mendukung, seperti pasir yang sesuai, kemiringan pantai ideal, vegetasi alami, serta minim gangguan manusia,” kata Irhan.
Hanya tersisa satu titik yang masih membutuhkan perhatian khusus agar bisa kembali ramah bagi penyu.
Menurut Irhan, data konkret ini akan menjadi kompas bagi pemerintah daerah dalam memperkuat regulasi di lapangan. Kebijakan ke depan akan difokuskan pada pengawasan kawasan, pengembangan wisata berkelanjutan, dan edukasi massal. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















