SUASANA politik di Kalimantan Timur (Kaltim) memanas setelah beredarnya video pendek dari “Aksi Damai 215”, Kamis (21/5). Dalam potongan video itu, terdengar nama Wali Kota Samarinda, Andi Harun, disebut oleh peserta aksi.
Video tersebut cepat menyebar di media sosial. Narasinya berkembang liar. Sebagian warganet bahkan mulai mengaitkan aksi itu dengan rivalitas politik daerah.
Namun, Sabtu (23/5), Andi Harun akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam aksi yang ditujukan kepada Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.
“Saya sudah menonton sejumlah konten video terkait berita Aksi Damai 215. Ada memang konten yang mencoba membelokkan narasi. Jelas itu tidak bertanggung jawab, tidak memenuhi kaidah jurnalistik profesional, dan mengada-ada,” kata Andi Harun di Samarinda.
Mantan legislator Kaltim itu menilai video yang beredar tidak berdiri secara utuh. Ia melihat ada pola tertentu yang sengaja dibangun untuk menggiring opini publik.
Menurutnya, ada indikasi pertanyaan yang diarahkan kepada peserta aksi agar menyebut namanya.
“Saat dicermati, sepertinya memang ada orang yang sadar dan sengaja mengatur pertanyaan kepada peserta aksi mengenai nama saya,” ujarnya.
Respons spontan dari sebagian peserta aksi kemudian dipotong menjadi video pendek. Potongan itulah yang belakangan viral dan memicu tafsir politik.
Andi Harun menilai situasi ini bukan sekadar kesalahpahaman biasa. Ia menduga ada pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan momentum untuk membenturkan dirinya dengan Rudy Mas’ud.
“Patut diduga ini sengaja ingin mengadu domba saya dengan Pak Gubernur,” katanya.
Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi yang berkembang beberapa hari terakhir. Terutama soal isu hubungan politik antara Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Andi Harun memastikan komunikasi dan hubungan kerja dengan Rudy Mas’ud tetap berjalan baik.
Ia menegaskan koordinasi pemerintahan dan pembangunan daerah tidak mengalami masalah.
Padahal, di tengah dinamika politik daerah, isu keretakan elite sering kali cepat menyulut kegaduhan publik. Terlebih jika sudah masuk ke ruang media sosial yang bergerak tanpa rem.
Karena itu, Andi Harun meminta masyarakat tidak mudah terpancing oleh potongan video yang tidak utuh.
“Kalau hal ini terjadi pada saya, tentu cara menganalisisnya sederhana, mencari siapa yang paling diuntungkan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan tidak memiliki kepentingan apa pun dari kegaduhan politik yang muncul akibat viralnya video tersebut.
“Jangan dibelokkan menjadi isu politik, itu tidak benar. Saya sudah 30 tahun berada di dunia politik dan tidak pernah menggunakan cara-cara yang tidak intelek serta tidak fair dalam berpolitik,” tegasnya.
Meski membantah keterlibatan dirinya, Andi Harun tetap menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat di muka umum.
Namun, ia mengingatkan agar kebebasan menyampaikan aspirasi tidak berubah menjadi pemicu konflik politik dan gangguan stabilitas daerah.
“Saya mengimbau penyampaian aspirasi tidak boleh mengganggu persatuan dan suasana kondusif daerah, karena itu adalah pondasi utama dalam menjalankan roda pemerintahan,” katanya. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















