Pranala.co, BONTANG – Mereka kembali. Setelah lebih dari sebulan di Tanah Suci, 145 jemaah haji asal Kota Bontang akhirnya menginjakkan kaki di kampung halaman. Kamis siang (10/7), rombongan yang tergabung dalam Kloter 16 Embarkasi Balikpapan ini disambut hangat di pendopo rumah jabatan Wali Kota.
Tangis haru tak bisa dibendung. Ada yang berlari, ada yang memeluk, ada yang hanya menatap diam sambil meneteskan air mata. Suasana yang tak bisa dituliskan dengan kata-kata. Seperti menonton film keluarga, hanya saja ini nyata.
Tiga dari 145 jemaah itu bukan jemaah biasa. Mereka adalah pendamping dan tim medis. Menjaga, membantu, dan memastikan semua berjalan baik selama di Mekkah dan Madinah.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, berdiri di tengah keramaian. Menyambut dengan senyum dan doa.
“Selamat datang kembali di tanah air. Semoga semua menjadi haji yang mabrur,” ucap Bunda Neni—begitu ia biasa disapa.
Di sampingnya, tampak Wakil Wali Kota Agus Haris. Hadir pula para pejabat Pemkot, tokoh agama, Forkopimda, hingga para camat. Lengkap. Seolah ingin mengatakan, “Kami semua rindu kalian pulang.”
Dalam sambutannya, Wali Kota tak hanya bicara soal ibadah. Ia menyentil tentang peran sosial seorang haji.
“Para jemaah adalah duta umat. Harus jadi teladan dalam kebaikan, kedamaian, dan gotong royong,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi semua pihak yang telah terlibat. Dari Kemenag, Bagian Kesra, tim kesehatan, hingga para pendamping.
“Kerja sama yang luar biasa. Kepulangan yang selamat ini adalah hasil dari doa dan kerja keras kita bersama,” katanya.
Tak lupa, ia menyisipkan harapan. Bahwa pengalaman di Tanah Suci bisa menguatkan keimanan, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan kepedulian sosial.
Acara belum usai. Ustaz Anwar Sadat Badawi dari Masjid Al-Kautsar PT Badak LNG, mewakili jemaah, menyampaikan terima kasih.
“Alhamdulillah, kami semua pulang dengan selamat. Terima kasih atas perhatian dan pelayanan luar biasa dari Pemerintah Kota Bontang,” katanya lirih.
Di luar pagar pendopo, suasana tak kalah emosional. Ratusan keluarga jemaah sudah menunggu sejak Zuhur. Membawa bunga, senyum, dan air mata. Mereka memeluk erat, berdoa, dan menciumi tangan. Anak kecil yang tak sabar menyentuh wajah neneknya yang baru pulang haji.
Bontang kembali utuh. Setelah satu bulan, yang pergi sudah kembali. Yang menunggu, kini tak lagi sendiri.

















