DERU truk industri masih sibuk melintas di belakang permukiman Bontoa Raya, Kecamatan Minasatene, Pangkep. Namun setiap hujan deras turun, sebagian warga justru kembali dihantui kepanikan: air mendadak meluap, masuk ke rumah-rumah, merendam kasur, elektronik, hingga ruang tempat anak-anak mereka tidur.
Bagi warga, ini bukan lagi bencana musiman. Hujan kini berubah menjadi alarm ketakutan yang datang berulang tanpa solusi nyata.
Suasana RT 1 RW 12 Bontoa Raya mendadak kacau, Jumat, 23 Mei 2026. Hujan deras yang mengguyur kawasan itu membuat air meluap ke permukiman warga di belakang parkiran truk PT Semen Tonasa.
Warga berhamburan keluar rumah. Sebagian sibuk mengangkat kasur. Sebagian lagi menyelamatkan televisi, kulkas, hingga perabot rumah tangga agar tidak rusak diterjang genangan.
Air disebut naik sangat cepat. “Kalau hujan deras, kami tidak pernah tenang. Baru awan gelap saja warga sudah mulai waswas,” kata Hasriadi, salah satu warga terdampak.
Ia mengaku keluarganya hampir selalu siaga setiap hujan datang. Sebab genangan bisa tiba-tiba masuk ke rumah hanya dalam waktu singkat.
Situasi paling menegangkan justru terjadi pada malam hari.
“Kalau malam paling parah. Kami tidak bisa tidur karena takut air tiba-tiba naik lagi. Barang-barang harus siap diangkat,” ujarnya.
Bagi warga Bontoa Raya, banjir bukan lagi kejadian baru. Mereka menyebut kondisi ini sudah berlangsung lama dan terus berulang setiap hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Yang membuat warga kecewa, persoalan itu terjadi di tengah aktivitas kawasan industri besar yang setiap hari dipadati kendaraan berat.
Warga menduga buruknya sistem drainase di sekitar area belakang parkiran truk menjadi penyebab utama air terus meluap ke permukiman.
“Bertahun-tahun kami tinggal begini. Harusnya ada perhatian serius. Jangan industri terus berjalan, tapi warga sekitar terus jadi korban banjir,” keluh Hasriadi.
Kondisi itu semakin menyakitkan bagi keluarga yang memiliki bayi dan balita. Di tengah rumah lembab dan genangan air, mereka harus bertahan sambil menunggu banjir surut.
“Kasihan anakku masih bayi. Kami seperti hidup menunggu banjir datang,” tuturnya. [IR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














