PT KARYANUSA Ekadaya (KED) mendukung pelestarian tradisi adat Lomplai yang digelar masyarakat Dayak Wehea di Desa Diaq Lay, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Dukungan itu disampaikan dalam pelaksanaan pesta adat Mbob Jengea Puen Wehea atau Lomplai 2026 yang berlangsung di Lapangan Bola Desa Diaq Lay.
Lomplai merupakan tradisi syukuran panen masyarakat Dayak Wehea yang diwariskan secara turun-temurun. Ritual adat tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen padi sekaligus penghormatan terhadap alam dan leluhur yang selama ini dijaga masyarakat adat.
Manajemen PT KED, Muhammad Satria, mengatakan perusahaan memandang Lomplai bukan sekadar seremoni adat tahunan, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Dayak Wehea di Kutai Timur.
“Sebagai bagian dari komunitas yang bertumbuh bersama masyarakat di wilayah Kutai Timur, kami memandang kegiatan ini bukan sekadar seremoni musiman, melainkan fondasi identitas yang memperkuat keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Satria di Sangatta, Senin (18/5/2026).
Ia menegaskan PT KED berkomitmen menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat adat melalui dukungan terhadap pelestarian budaya dan kearifan lokal di sekitar wilayah operasional perusahaan. Menurut dia, sinergi bersama tokoh adat, pemerintah desa, dan unsur terkait akan terus dilakukan agar tradisi masyarakat tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Kami mengucapkan selamat merayakan pesta panen kepada warga Desa Diaq Lay. Semoga semangat gotong royong yang tercermin dalam rangkaian ritual ini dapat terus mempererat tali silaturahmi antara perusahaan dan masyarakat,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Lomplai diawali dengan musyawarah adat Ngalak Plai untuk menentukan waktu pelaksanaan ritual. Warga kemudian bersama-sama menyiapkan berbagai kebutuhan upacara adat, mulai dari lemang, pakaian adat, hingga perlengkapan tarian tradisional.
Prosesi dilanjutkan dengan ritual penyucian kampung dan pendirian Belanyung, yakni tiang kayu berhias yang menjadi simbol keagungan dalam adat Wehea. Tokoh adat bersama pemuda desa juga melaksanakan ritual Ngalak Pesat atau pengambilan air suci dari sungai yang digunakan dalam prosesi penyucian masyarakat.
Puncak acara diisi dengan penampilan Tari Hudoq dan Tari Tung Gereng yang menjadi bagian dari rangkaian ritual adat Lomplai. Selain itu, ritual Pekicung turut digelar sebagai bentuk penghormatan kepada dewi padi melalui persembahan yang dihanyutkan di atas rakit.
Kepala Adat Kutai Timur, Sung Hei, mengapresiasi masyarakat adat Wehea yang terus menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup hingga saat ini. Menurut dia, kegiatan adat Mbob Jengea yang menjadi bagian dari Lomplai memiliki makna religius sekaligus simbol perjuangan masyarakat adat mempertahankan budaya di tengah arus modernisasi.
“Kami, selaku Tokoh Masyarakat Adat Wehea, mengucapkan Selamat Merayakan Lomplai 2026 kepada seluruh masyarakat adat Wehea serta jajaran pimpinan di Pemerintah Kabupaten Kutai Timur,” ujar Sung Hei.
Melalui pelaksanaan Lomplai, masyarakat Dayak Wehea tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan hubungan spiritual dengan alam yang diwariskan secara turun-temurun. [ADS/HAF]


















