DINAS Kesehatan Kalimantan Timur alias Diskes Kaltim mengingatkan masyarakat mewaspadai potensi penyebaran hantavirus, terutama saat banjir dan genangan mulai muncul di sejumlah wilayah. Meski hingga kini belum ditemukan kasus maupun suspek hantavirus di Kaltim, ancaman penularan dari tikus dan hewan pengerat disebut tetap perlu diantisipasi.
Kepala Diskes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota. Langkah itu dilakukan menyusul meningkatnya perhatian terhadap penyakit zoonosis yang dapat menular melalui urine dan kotoran tikus.
“Hari ini saya membuat surat edaran untuk seluruh kabupaten dan kota agar waspada terkait hantavirus. Penyakit ini berkaitan dengan tikus dan curut, sementara hewan pengerat cukup banyak ditemukan di lingkungan masyarakat,” ujar Jaya, Jumat (15/5/2026).
Menurut Jaya, risiko penularan meningkat ketika banjir terjadi. Tikus yang keluar dari sarang kerap meninggalkan urine dan kotoran di lantai rumah, perabot, hingga area yang bersentuhan langsung dengan manusia. Partikel dari kotoran yang mengering juga dapat terbawa udara dan terhirup.
“Kita tidak tahu apakah menyentuh area yang terkena urine tikus atau tidak. Karena itu masyarakat harus rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.
Diskes Kaltim memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus hantavirus di wilayah tersebut. Pemantauan dilakukan setiap pekan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang terhubung dengan Kementerian Kesehatan.
“Sejauh ini tidak ada laporan kasus hantavirus di Kaltim. Setiap minggu kami melaporkan perkembangan ke Kementerian Kesehatan,” ujar Jaya.
Ia menjelaskan, gejala awal hantavirus sering kali mirip penyakit lain seperti tifoid, demam berdarah dengue (DBD), maupun infeksi saluran pernapasan. Penderitanya umumnya mengalami demam, nyeri tubuh, hingga gangguan tenggorokan sehingga kerap tidak disadari sejak awal.
Meski demikian, hantavirus dipastikan bukan penyakit yang menular antarmanusia. Penularan terjadi dari hewan ke manusia atau zoonosis, terutama melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terhirup atau menyentuh luka terbuka.
Hingga kini belum tersedia obat khusus untuk hantavirus. Penanganan medis dilakukan untuk menjaga kondisi tubuh pasien dan mencegah komplikasi serius pada organ vital seperti paru-paru, ginjal, dan jantung.
Karena itu, Diskes Kaltim menilai pencegahan menjadi langkah paling penting, mulai dari menjaga kebersihan rumah, menutup akses masuk tikus, hingga rutin membersihkan area lembap dan tergenang. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















