PROYEK jaringan gas (jargas) rumah tangga di Bontang berpacu dengan waktu. Hingga pertengahan Mei 2026, pemasangan sambungan rumah (SR) baru menyentuh sekira 4 ribu rumah dari total target 10.553 sambungan yang harus tuntas pada Juli 2026.
Artinya, masih ada lebih dari 6 ribu rumah yang belum tersambung gas, sementara waktu pengerjaan tersisa kurang dari dua bulan. Di lapangan, proyek ini masih dibayangi berbagai kendala teknis, mulai dari sulitnya menemui pemilik rumah hingga rumitnya mencari pipa induk yang tertanam di bawah jalan.
Construction Manager PT Noorel Idea, Mulya Munir, mengakui progres pemasangan SR berjalan lebih lambat dibanding sambungan kompor (SK) atau instalasi pipa di dalam rumah warga. Saat ini, pemasangan SK disebut hampir mencapai 100 persen.
“Itu hanya untuk pemasangan 10.553 pasangan baru saja. Sementara untuk dua ribu tambahannya belum pasti, jadi kami belum bisa mengerjakan,” kata Mulya, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, hambatan paling sering terjadi saat proses validasi data calon penerima jargas. Tim di lapangan wajib memastikan langsung identitas dan kesiapan rumah sebelum pemasangan dilakukan. Namun, tidak sedikit rumah yang kosong saat petugas datang.
“Kalau pemilik rumah tidak ada, kita tidak bisa validasi. Sementara kita harus kejar target, jadi rumah itu kita tinggalkan dulu dan lanjut ke lokasi lain,” ujarnya.
Kondisi itu membuat pola kerja di lapangan berubah. Tim pemasangan harus berpindah-pindah lokasi untuk mengejar rumah yang siap dipasang lebih dulu. Situasi tersebut dinilai ikut memperlambat progres SR yang menjadi indikator utama penyelesaian proyek jargas.
Masalah lain muncul saat penyambungan ke pipa induk. Quality Control PT Noorel Idea, Bambang Haryanto, mengatakan tim harus mencari kembali titik pipa utama yang sebelumnya dipasang oleh PT Bontang Migas dan Energi (BME).
Pekerjaan itu tidak sederhana. Sebab, kondisi lingkungan sudah banyak berubah dibanding saat pipa pertama kali ditanam. Beberapa jalan yang dulunya masih berupa tanah kini sudah dicor, sehingga posisi dan kedalaman pipa ikut berubah.
“Sebagian besar pekerjaan kita adalah penetrasi. Untuk menemukan pipa induk itu harus sangat hati-hati, apalagi kondisi lingkungan sekarang sudah berbeda,” kata Bambang.
Menurut dia, pencarian satu titik sambungan bisa memakan waktu hingga dua hari. Proses itu juga kerap terkendala cuaca, terutama saat hujan turun dan membuat pekerjaan galian menjadi lebih sulit.
Di tengah tekanan tenggat waktu, kontraktor kini memilih mempercepat pemasangan SK sambil terus mengejar SR yang tertinggal. Meski progres masih jauh dari target, pihak pelaksana mengaku tetap optimistis proyek jargas Bontang dapat selesai sesuai jadwal pada Juli 2026. [FR]














