AMBISI besar Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) membangun proyek terowongan kini harus berhadapan dengan realitas fiskal yang tidak ringan.
Pemerintah Kota Samarinda resmi menahan rencana tambahan anggaran Rp90 miliar untuk proyek terowongan. Dana itu sebelumnya dirancang untuk pekerjaan teknis penting, terutama memperkuat tebing dan menjaga kestabilan struktur di sekitar lokasi proyek.
Namun situasi kas daerah membuat pemerintah memilih menekan laju belanja.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Hendra Kusuma, mengatakan hingga kini belum ada langkah lanjutan terkait realisasi tambahan dana tersebut.
Menurutnya, pemerintah harus lebih berhati-hati menentukan prioritas pembangunan.
“Karena kondisi anggaran kita sangat terbatas, maka yang paling bijak adalah memfokuskan sumber daya pada program yang lebih mendesak untuk masyarakat,” kata Hendra.
Keputusan itu sekaligus menunjukkan bahwa proyek terowongan belum menjadi prioritas utama untuk mendapatkan suntikan dana baru dalam waktu dekat.
Padahal, kebutuhan tambahan anggaran tersebut bukan untuk pekerjaan kosmetik.
Dana Rp90 miliar itu dirancang khusus untuk memperkuat area tebing dan menjaga keamanan struktur proyek jangka panjang. Langkah tersebut dinilai penting agar tidak muncul persoalan teknis baru di kemudian hari.
Apalagi proyek ini sempat diterpa longsor pada Mei 2025.
Peristiwa itu bukan hanya memicu pekerjaan penanganan darurat, tetapi juga mengubah desain teknis proyek secara besar-besaran.
Panjang terowongan yang semula dirancang sekitar 400 meter kini berubah menjadi 526 meter demi meningkatkan aspek keamanan dan ketahanan struktur.
Perubahan desain itu ikut mendorong pembengkakan kebutuhan anggaran.
Hendra mengakui, di tengah tekanan fiskal saat ini, Pemerintah Kota Samarinda lebih banyak mengandalkan bantuan keuangan atau Bankeu agar pembangunan tetap berjalan.
Menurutnya, strategi itu dipilih untuk menjaga proyek infrastruktur tetap hidup tanpa membebani APBD secara berlebihan.
“Ketergantungan terhadap bantuan keuangan menjadi salah satu strategi kami agar pembangunan tetap berjalan,” ujarnya.
Sejauh ini, proyek terowongan Samarinda telah menghabiskan dana sekira Rp432,3 miliar.
Anggaran tersebut dikucurkan bertahap melalui APBD Kota Samarinda sejak 2022 hingga 2025.
Dari jumlah itu, termasuk tambahan Rp36,3 miliar yang sebelumnya dialokasikan khusus untuk penanganan longsor pada 2025. [TIA]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















