MENANAM sayur di sekolah mungkin terdengar sederhana. Namun di Kota Bontang, langkah kecil itu sedang disiapkan menjadi fondasi besar menghadapi masa depan pangan.
Melalui program Smart Tani Go to School, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang mulai mengenalkan dunia pertanian sejak usia dini.
Bukan lewat ceramah panjang. Anak-anak langsung turun tangan. Mereka belajar menyiapkan media tanam, menanam benih, merawat tanaman, hingga memanen hasilnya sendiri.
Kepala DKP3 Bontang Ahmad Aznem mengatakan pendekatan praktik dipilih agar siswa lebih mudah memahami pentingnya pertanian dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak belajar dari praktik. Mereka mengenal bagaimana menanam, merawat, sampai akhirnya merasakan hasil panen sendiri,” ujar Aznem, Jumat (22/5/2026).
Program ini bukan hanya soal berkebun. Di balik polybag dan bibit kangkung, ada misi lebih besar: membangun kesadaran ketahanan pangan sejak dini.
Siswa dikenalkan pada dasar-dasar budidaya pertanian, pemanfaatan teknologi sederhana, hingga konsep pertanian ramah lingkungan.
Mereka diajak memahami satu hal penting: pangan tidak hadir begitu saja di meja makan. Ada proses panjang. Ada kerja keras. Ada pengetahuan yang harus diwariskan.
Sekretaris DKP3 Bontang Debora Kristiani mengatakan program ini sudah berjalan di tiga sekolah percontohan. Yakni SD 002 Gunung Telihan di Bontang Barat, SD 009 Loktuan di Bontang Utara, dan SD 005 Berbas Pantai di Bontang Selatan.
Hasil awal program mulai terlihat. Di SD 002 Gunung Telihan, siswa berhasil melakukan panen perdana kangkung yang mereka tanam sendiri menggunakan polybag.
Antusiasme terlihat sejak proses awal. Mulai menyiapkan media tanam, memasukkan bibit, hingga menyiram tanaman setiap hari dilakukan langsung oleh para siswa.
Bagi sebagian anak, ini menjadi pengalaman pertama menyentuh tanah dan merawat tanaman hingga tumbuh.
“Pengalaman ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membentuk keterampilan praktis. Anak-anak belajar tanggung jawab, kesabaran, dan pentingnya merawat lingkungan,” kata Debora.
Suasana sekolah pun berubah. Sudut-sudut sekolah yang sebelumnya kosong mulai dipenuhi tanaman hijau. Lingkungan menjadi lebih hidup dan produktif.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni.
Saat menghadiri peluncuran program di SD 005 Berbas Pantai, Neni menilai Smart Tani Go To School memiliki dampak besar bagi masa depan generasi muda.
Bahkan, ia meminta program tersebut diperluas hingga jenjang taman kanak-kanak dan sekolah menengah pertama. Tujuannya agar kesadaran soal pangan dan lingkungan tumbuh lebih cepat.
“Wali Kota bahkan minta agar program ini juga bisa masuk ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP), agar dampaknya semakin luas,” ujar Debora.
Program ini juga membuka peluang kolaborasi lebih luas. Sekolah didorong bekerja sama dengan komunitas hingga dunia industri agar pembelajaran lebih kontekstual dan dekat dengan kebutuhan lapangan.
Menariknya, Smart Tani Go To School sejalan dengan program Adiwiyata yang telah lebih dulu berjalan di sejumlah sekolah.
Kombinasi keduanya dinilai mampu membentuk generasi yang lebih peduli lingkungan sekaligus memahami pentingnya kemandirian pangan.
Di tengah dunia yang menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis pangan global, langkah kecil dari kebun sekolah di Bontang ini menyimpan harapan besar. Bahwa masa depan pangan bisa dimulai dari tangan anak-anak. [ADS/FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















