PROYEK terowongan Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) terus menyedot anggaran jumbo. Hingga 2025, total dana yang telah digelontorkan mencapai Rp432,3 miliar.
Namun proyek itu ternyata masih membutuhkan tambahan anggaran lagi.
Pemerintah Kota Samarinda sebelumnya sempat mewacanakan penambahan dana sebesar Rp90 miliar untuk memperkuat tebing dan struktur di sekitar area terowongan. Tetapi rencana itu kini diputuskan ditunda karena tekanan terhadap kondisi keuangan daerah.
Plt Kepala Dinas PUPR Samarinda, Hendra Kusuma, mengatakan pemerintah harus menyesuaikan prioritas pembangunan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.
“Belum ada tindak lanjut untuk tambahan anggaran itu,” ujarnya.
Tambahan dana Rp90 miliar disebut penting untuk pekerjaan teknis penguatan area proyek, terutama setelah longsor yang terjadi pada Mei 2025.
Insiden itu bukan hanya memicu biaya tambahan Rp36,3 miliar untuk penanganan longsor, tetapi juga membuat desain proyek berubah signifikan.
Panjang terowongan yang awalnya dirancang sekitar 400 meter kini menjadi 526 meter.
Pemkot mengaku harus lebih berhati-hati agar proyek besar tersebut tidak semakin membebani APBD.
Saat ini, salah satu strategi yang ditempuh adalah mengandalkan bantuan keuangan dari luar daerah agar pembangunan infrastruktur tetap berjalan.
Namun Pemkot Samarinda menilai langkah tersebut belum bisa dipaksakan dalam situasi kas daerah saat ini.
Untuk menjaga pembangunan tetap berjalan, Pemkot kini lebih banyak bergantung pada bantuan keuangan (Bankeu).
Meski begitu, proyek terowongan tetap menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar yang pernah dibangun Samarinda. [RE/TIA]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















