KEHIDUPAN nelayan pesisir di Kelurahan Guntung, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) berada dalam tekanan berat. Hasil tangkapan yang tak menentu kini diperparah oleh dugaan maraknya praktik pengeboman ikan di wilayah perairan sekitar.
Bagi nelayan kecil, kondisi ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya langsung terasa di meja makan keluarga mereka.
Samson Wijaya, nelayan muara di Guntung, berkeluh. Dia bilang nelayan tradisional selama ini hanya mengandalkan hasil tangkapan harian untuk bertahan hidup. Ketika ekosistem laut rusak, penghasilan mereka ikut runtuh.
“Awalnya kami tidak berharap banyak karena kami ini nelayan kecil, hanya nelayan muara,” ujarnya.
Menurut Samson, praktik bom ikan menghancurkan terumbu karang yang menjadi habitat utama ikan berkembang biak. Akibatnya, populasi ikan semakin sulit ditemukan di sekitar wilayah tangkap nelayan tradisional.
Nelayan kecil pun terpaksa melaut lebih jauh.
Konsekuensinya tidak ringan. Biaya bahan bakar naik. Risiko di laut meningkat. Sementara hasil tangkapan belum tentu cukup menutup ongkos operasional.
“Kalau laut rusak, kami yang pertama merasakan dampaknya,” kata Samson kepada Pranala.co, Jumat (22/5/2026).
Situasi semakin membuat nelayan kecewa ketika bantuan pemerintah yang seharusnya menjadi penopang ekonomi justru dinilai tidak tepat sasaran.
Samson menyebut masih ada penerima bantuan yang bukan berprofesi sebagai nelayan aktif.
“Kami mau sikapi soal bantuan. Ada yang bukan nelayan tapi dapat bantuan,” katanya.
Keluhan serupa datang dari Tanda, nelayan asal Pagu, Bontang Lestari. Ia mengaku banyak nelayan yang memiliki legalitas resmi dan aktif melaut justru belum pernah menerima bantuan alat tangkap maupun program pemberdayaan.
Padahal, bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan keselamatan saat bekerja di laut.
“Kami resmi tapi tidak pernah tersentuh bantuan,” pungkasnya.
Kondisi ini memunculkan keresahan di kalangan nelayan kecil. Mereka merasa semakin tersisih di tengah ancaman kerusakan laut dan sulitnya akses terhadap bantuan.
Para nelayan kini berharap pemerintah bersama aparat penegak hukum memperketat pengawasan terhadap praktik pengeboman ikan yang dinilai merusak masa depan pesisir Bontang.
Mereka juga meminta pendataan ulang penerima bantuan agar program pemerintah benar-benar diterima nelayan aktif yang menggantungkan hidup dari laut setiap hari.
Jika kerusakan laut terus dibiarkan, para nelayan khawatir bukan hanya hasil tangkapan yang hilang. Masa depan kampung pesisir juga bisa perlahan tenggelam. [IR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















