Pembelajaran Daring, Berpikirlah sampai Boksnya Tak Ada

Opini dari Rakhman Halim, Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 7 Bontang

Penulis: Rakhman Halim, Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 7 Bontang.

MAHFUM, bahwa pembelajaran tatap muka langsung bersama siswa tak kan tergantikan dengan pembelajaran daring atau online. Siapa yang menyana bahwa kenyataan berkata lain. Kondisi pandemik Covid-19 datang begitu saja, membuat semua terkejut, kaget, kagok dan ‘terpaksa’ kudu survive.

Dengan segala kondisi khususnya para guru berusaha mengonversi bentuk pembelajaran dan ini telah dijalani selama kurang lebih 4 bulan di penghujung tahun ajaran. Bahkan Ujian Nasional pun menjadi dan berbasis daring dan diserahkan kepada sekolah masing-masing penyelenggaraannya.

Kini persiapan menyambut tahun ajaran baru memasuki era new normal pun hampir dapat dipastikan sebagian besar pembelajaran akan dilaksanakan daring. Mengingat kondisi sebagian besar wilayah negara ini masih berada dalam zona kuning dan merah.

Berbagai respon masyarakat terutama orangtua siswa, para pemerhati dunia pendidikan hingga para pakar menilai pola pembelajaran daring masih dirasa kurang efektif. Banyak kendala dari hal teknis, seperti ketersediaan gadget hingga jaringan, kemampuan guru men-deliver pembelajaran dan sisi konten dalam ranah pembentukan karakter, belum tersentuh maksimal.

Menurut kami para guru, tentunya pembelajaran daring memang tidak seideal saat bertatap muka, tapi bukan berarti tidak efektif. Dengan segala kekurangannya, pembelajaran online telah membuka mata guru, siswa, orang tua, bahwa ada alternatif lain dalam melangsungkan pembelajaran.

Banyak kendala dari hal teknis, seperti ketersediaan gadget hingga jaringan, kemampuan guru mendeliver pembelajaran dan sisi konten dalam ranah pembentukan karakter, belum tersentuh maksimal. Sekali lagi dirasa cukup efektif atau tidak setidaknya ada alternatif di masa pandemik yang juga belum kunjung usai.

Namun tentunya sebagai konsekuensi dari fenomena ini, kita ‘dipaksa’ untuk bertahan. Kita digiring utk lebih kreatif dan terbuka terhadap segala kemungkinan. Ke depan, kita terbiasa melakukan pembelajaran dengan multi cara pandang.

Semua akan berdampak positif jika kita mampu menyiapkan desain pembelajaran yang baik dan aplikatif. Berikut, beberapa tips (saya dapat dari hasil bertanya dan berdikusi dengan rekan-rekan guru hebat) yang mungkin bisa aplikatif:

1. Simplify the material (sederhanakan materi pembelajaran)

Bukan berarti pilih materi cuma yang gampang saja, tapi pakai cara penyampaian yang mudah diterima. Caranya bagaimana? Gunakan alat bantu peraga. Bisa berupa video, slide pdf, gambar, apapun itu yang membuat siswa paham. Jadi bukan kita saja yang terus menerus ngomong di screen. Murid juga enggak bosen ya kalau ada variasi di layar.

2. Think about the time. (Pertimbangkan Durasi)

Waktu pengajaran bisa dipersingkat. Ini untuk antisipasi kelelahan melihat layar komputer dan kebosanan siswa. Jadi bisa saja dikurangi misalnya yang tadinya 90 menit jadi 60 menit. Sehingga fokus dan antusiasme siswa tetap terjaga.

3. Maintain qualified communication. (Jaga Kualitas Komunikasi)

Maksudnya, meskipun online, kita tetap bisa ‘menyentuh kalbu’ siswa that we are there for them, that they are important to us, that they can improve themselves more, dll. Caranya bagaimana? Tetap disampaikan encourage messages, advices atau perhatian kecil seperti mengucapkan selamat ulang tahun, dll. Dari pengalaman saya, murid bisa mengidentifikasi kalau kita guru yang bikin bete’ setidaknya dari 3 hal: muka, suara, dan tindakan. Nanti kalau online, ngajarnya harus kelihatan semangat dan ramah, karena kalau di istilah Tsunami, guru itu epicentrum. Bisa menimbulkan vibe positif atau negatif gagaga…

4. Just be prepared and be happy with any conditions come up. (Optimistik, persiapan dengan baik)

Karena ini dianggap masih baru, ya berarti kita masih membutuhkan banyak jam terbang terutama supaya siap dengan antisipasi dengan aneka kondisi yang mungkin muncul seperti misalnya murid ngambek terus ga mau belajar (murid anak-anak), WiFi terputus, dll. Artinya kita dituntut untuk keep learning,developing and improving especially to new things.

So, kenapa kita harus membatasi diri? Jika ada istilah berpikir out of the box, tapi harusnya lebih dari pada itu berpikirlah bukan hanya di luar box, bahkan harusnya singkirkan tidak ada lagi boksnya. Jadi berpikir dan berimajinasi seluas semesta ciptaan Allah. Selama masih bisa sharing hal positif dan bermanfaat bagi orang lain. (Penulis: Rakhman Halim, Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 7 Bontang)

Note: Demikian uraian ‘opini’ tentang pembelajaran daring. Tulisan ini adalah rangkuman beberapa opini teman sejawat yang tetap optimistis dan kreatif.

More Stories
Banjir di Samarinda Agenda Tahunan, Tambang Batu Bara jadi Sorotan