PEMERINTAH resmi memulai pembangunan proyek coal-to-methanol PT Bumi Etam Chemical di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur. Langkah ini diambil untuk memangkas ketergantungan impor metanol nasional yang menembus nilai triliunan rupiah per tahun.
Groundbreaking proyek bernilai investasi Rp41 triliun ini digelar pada Senin (31/8/2026). Fasilitas manufaktur ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk memperkuat ketahanan energi domestik.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan pentingnya pasokan metanol dalam negeri. Kebutuhan komoditas ini diprediksi melonjak seiring rencana kenaikan target campuran bahan bakar nabati dari B50 ke B60.
"Diperkirakan nilainya untuk implementasi metanol sekitar Rp9 triliun. Kalau kita masih tetap impor dengan nilai sekitar Rp9 triliun, ini berarti devisa kita keluar," kata Yuliot saat meresmikan pemancangan batu pertama proyek tersebut.
Pabrik di Bengalon memanfaatkan batu bara berkalori rendah (low-rank coal) sebagai bahan baku utama. Pengolahan ini memberikan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih tinggi ketimbang menjual batu bara mentah langsung ke pasar.
Metanol hasil olahan pabrik ini disiapkan untuk menyuplai industri dalam negeri dan dikembangkan menjadi Dimethyl Ether (DME). Produk DME berpotensi menjadi opsi substitusi pasokan LPG yang selama ini didominasi produk impor.
Pemerintah juga membidik peluang ekspor komoditas ini ke pasar mancanegara. Nilai perdagangan metanol global diperkirakan menembus angka 56 miliar dolar AS pada 2030.
"Ini menjadi peluang bagi kita untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga dapat masuk ke dalam rantai pasok global," tutur Yuliot.
Proyek PT Bumi Etam Chemical (BEC) bakal ditopang oleh fasilitas pembangkit listrik mandiri berkapasitas 3 x 400 megawatt (MW). Pembangkit ini mengadopsi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna menekan emisi emisi karbon dari proses produksi.
Perjalanan menghadirkan pabrik hilirisasi batu bara ini membutuhkan masa persiapan panjang. Proses penyusunan proyek sudah berjalan sejak 2010 dan memakan waktu hingga 15 tahun sebelum sampai pada tahap groundbreaking.
Pemerintah Daerah Kalimantan Timur meminta investor tidak sekadar membangun fasilitas fisik, tetapi juga membawa dampak kesejahteraan nyata bagi warga setempat.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Kaltim Bambang Arwanto menyampaikan bahwa besarnya angka investasi harus menyerap tenaga kerja lokal dan menggandeng pelaku UMKM sekitar area operasi.
"Investasi Rp41 triliun ini jangan hanya berhenti di dalam pagar kawasan industri. Dampaknya harus keluar dari pagar," ujar Bambang.
Bambang mendorong keberadaan proyek ini mampu mendongkrak pendapatan daerah sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat Kutai Timur secara langsung.
Pembangunan fasilitas coal-to-methanol PT BEC ditargetkan tuntas dan beroperasi penuh pada 2029. Pemerintah optimistis kehadiran pabrik ini menjadi pilar utama kemandirian industri kimia dasar nasional. (*)















