JEMBATAN Lembak di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), kini menggunakan lintasan sementara berbahan baja setelah oprit di sisi jembatan mengalami penurunan. Pemasangan dilakukan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim, Senin (24/8/2026) agar kendaraan tetap dapat melintas.
PPK 2.3 BBPJN Kaltim, Musa Partogi, mengatakan konstruksi sementara tersebut menggunakan baja girder dan plat baja. Struktur itu dirancang agar beban kendaraan tidak langsung bertumpu pada permukaan oprit yang mengalami penurunan.
“Konsepnya seperti jembatan pakai plat baja. Supaya nanti kendaraan yang melintas tidak langsung interaksi ke permukaan yang turun,” ujar Musa saat dihubungi.
Penurunan oprit Jembatan Lembak sebenarnya sudah terpantau sejak Mei 2026. BBPJN kemudian melakukan leveling atau perataan permukaan jalan pada Juli untuk menangani kondisi tersebut.
Namun, pekerjaan itu belum menyelesaikan persoalan. Sekitar dua minggu setelah permukaan jalan diratakan, penurunan kembali terjadi dengan pergerakan yang lebih cepat.
“Dua minggu setelah kami lakukan perataan permukaan jalan, aktivitas penurunannya semakin massif,” kata Musa.
Kondisi tersebut kemudian ditindaklanjuti BBPJN melalui survei, monitoring, dan pengujian. Hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk menyusun desain penanganan permanen.
Penanganan permanen tersebut diusulkan untuk dilaksanakan pada 2027.
Sambil menunggu penanganan permanen, BBPJN menggunakan konstruksi plat baja sebagai lintasan sementara di Jembatan Lembak.
Penggunaan baja tersebut ditujukan untuk menjaga kendaraan tetap bisa melintas tanpa memberikan beban secara langsung pada permukaan oprit yang mengalami penurunan.
Konstruksi menggunakan baja girder dan plat baja sehingga kendaraan melintas di atas struktur sementara tersebut.
Langkah ini menjadi solusi sementara sampai penanganan permanen dapat dilaksanakan sesuai desain yang telah disusun berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan.
Kendaraan ODOL Diminta Dibatasi
Musa meminta kendaraan berat, terutama kendaraan yang masuk kategori Over Dimension Over Load (ODOL), dibatasi saat melintas di Jembatan Lembak.
Pembatasan tersebut diperlukan agar konstruksi sementara dapat bertahan lebih lama selama menunggu pekerjaan permanen.
BBPJN juga mengusulkan kendaraan berat menggunakan jalur alternatif melalui Sepaso Selatan untuk mengurangi beban lalu lintas di Jembatan Lembak.
Jalur alternatif melalui Sepaso Selatan sebenarnya memiliki jembatan sepanjang 60 meter. Namun, akses menuju jalur tersebut masih menjadi kendala.
Sekitar 97 persen ruas jalan di jalur tersebut masih berupa jalan tanah. Kondisi ini membuat pembagian arus kendaraan perlu disesuaikan dengan karakteristik kendaraan yang melintas.
Musa menjelaskan kendaraan berat dapat diarahkan melalui Sepaso Selatan, sedangkan kendaraan ringan tetap menggunakan Jembatan Lembak.
“Artinya, untuk sekarang ini kita bisa membagi kendaraan. Kendaraan yang berat bisa lewat Sepaso Selatan dan yang ringan lewat Jembatan Lembak,” jelasnya.
Penanganan Permanen Diusulkan 2027
BBPJN Kaltim saat ini menempatkan lintasan baja sebagai solusi sementara untuk menjaga konektivitas kendaraan di Jembatan Lembak.
Langkah tersebut dilakukan setelah pemantauan menunjukkan penurunan oprit kembali terjadi meski sebelumnya telah dilakukan perataan permukaan jalan.
Penanganan permanen diusulkan dilaksanakan pada 2027 berdasarkan hasil survei, monitoring, dan pengujian yang telah dilakukan BBPJN.
Sampai pekerjaan permanen tersedia, pengaturan kendaraan menjadi bagian penting untuk menjaga lintasan sementara tetap dapat digunakan. Kendaraan berat diarahkan menggunakan jalur alternatif, sementara kendaraan ringan dapat melintas melalui Jembatan Lembak. (*)















