SAMARINDA, Pranala.co – Harapan baru muncul dari sektor ketenagakerjaan Kalimantan Timur (Kaltim). Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, angka pengangguran di provinsi ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada Februari 2025, TPT tercatat sebesar 5,33 persen, menurun 0,42 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Ini menunjukkan arah positif dalam penyerapan tenaga kerja, terutama didorong oleh pertumbuhan sektor unggulan,” ujar Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, dikutip, Sabtu (17/5/2025).
Sektor Pertambangan dan Penggalian menjadi kontributor terbesar terhadap penurunan pengangguran. Sebanyak 46.002 orang terserap ke sektor ini, menjadikannya lapangan usaha dengan penambahan tenaga kerja terbesar pada periode pengamatan.
Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja di Kaltim meningkat menjadi 2.123.156 orang, naik sekitar 113 ribu orang dibanding Februari 2024. Sejalan dengan itu, jumlah penduduk yang bekerja juga tumbuh signifikan, yakni 2.009.990 orang, atau bertambah hampir 116 ribu orang.
Namun di balik catatan positif itu, muncul pekerjaan rumah yang tak kalah penting. Komposisi pekerja di Kaltim pada Februari 2025 masih didominasi sektor informal, yakni sebesar 46,92 persen atau setara 943.098 orang. Sementara sektor formal mencatatkan 53,08 persen.
“Jumlah pekerja informal naik sedikit dibanding tahun lalu, sedangkan pekerja formal justru mengalami penurunan tipis,” ujar Yusniar.
Pergeseran ini memperlihatkan bahwa meski lapangan kerja terbuka, stabilitas dan jaminan kerja bagi pekerja formal belum sepenuhnya terbangun.

Soal latar belakang pendidikan, mayoritas tenaga kerja berasal dari tamatan SMA umum, yakni 28,39 persen dari total pekerja. Sementara lulusan Diploma hanya 3,84 persen, dan Sarjana 13,67 persen. Ini mengindikasikan bahwa pasar kerja Kaltim masih belum sepenuhnya menyerap lulusan pendidikan tinggi secara optimal.
Meski angka pengangguran menurun, pekerja setengah penganggur justru mengalami peningkatan sebesar 1,58 persen poin. Sebaliknya, pekerja paruh waktu mengalami penurunan 2,81 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini mencerminkan bahwa sebagian pekerja masih belum mendapatkan jam kerja penuh dan cenderung bekerja di bawah kapasitas ideal.
Dari sisi gender, tingkat setengah pengangguran laki-laki di Kaltim lebih tinggi dibanding perempuan. Laki-laki mencatatkan angka 6,09 persen, sementara perempuan 4,91 persen.
Yusniar menegaskan bahwa tren ini perlu jadi perhatian khusus, terutama dalam perumusan kebijakan ketenagakerjaan berbasis inklusivitas dan keberlanjutan. [DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










