LESUNYA sektor pariwisata mulai memukul urat nadi pendapatan daerah di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Imbas minimnya agenda besar dan kunjungan wisata, penerimaan pajak hotel di Kota Minyak kini dilaporkan merosot akibat okupansi kamar yang terus melandai.
Kondisi ekonomi yang menantang ini memaksa Badan Pengelola Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (BPPDRD) Kota Balikpapan mengambil langkah tak biasa. Demi mengamankan target Pendapatan Asli Daerah (PAD), puluhan petugas pajak kini diterjunkan langsung ke lapangan untuk menyisir hotel-hotel.
Kepala BPPDRD Balikpapan, Idham, mengakui bahwa perlambatan ekonomi di sejumlah sektor pada semester I tahun ini menjadi tantangan berat bagi instansinya.
“Kami masih berusaha keras mengoptimalkan penerimaan. Kondisi ekonomi saat ini tidak dipungkiri berdampak pada sektor pajak,” ujar Idham saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/6/2026).
Sadar tidak bisa hanya duduk di balik meja, BPPDRD langsung mengambil tindakan agresif. Sebanyak 50 personel diterjunkan khusus untuk memantau langsung tingkat hunian hotel secara ril, terutama saat masa libur panjang (long weekend).
Langkah jemput bola ini sengaja diambil untuk mencocokkan data di lapangan dengan laporan wajib pajak. Petugas ingin memastikan tidak ada potensi pendapatan daerah yang bocor di tengah situasi sulit.
“Kemarin kami tugaskan sekitar 50 orang untuk memantau okupansi hotel. Kita ingin melihat langsung berapa tingkat hunian tamu yang sebenarnya di sana,” kata Idham menjelaskan.
Menariknya, pengawasan ketat ini tidak akan berhenti di bisnis penginapan saja. Setelah sektor perhotelan selesai disisir, BPPDRD sudah menjadwalkan pengawasan serupa ke sektor hilir lainnya seperti restoran, kafe, hingga rumah makan.
Penyelamat PAD Justru dari Meja Makan
Hingga triwulan I tahun ini, realisasi penerimaan pajak daerah Balikpapan baru menyentuh angka 25 persen. Idham menegaskan, instansinya harus bergerak lebih cepat di sisa tahun berjalan agar target tahunan tidak meleset jauh.
Dari evaluasi sementara, kontras tajam terlihat antara bisnis hotel dan kuliner. Ketika performa pajak hotel di Balikpapan menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan, bisnis kuliner justru tampil sebagai pahlawan baru.
“Penyumbang terbesar saat ini justru datang dari pajak restoran. Untuk sektor perhotelan memang bergerak lebih lambat dan ada tren penurunan,” ungkapnya.
Menurut Idham, lesunya bisnis hotel ini berjalan beriringan dengan sepinya event berskala besar di Balikpapan belakangan ini. Padahal, denyut nadi hotel sangat bergantung pada arus kedatangan wisatawan yang menghadiri acara-acara tersebut.
“Sektor wisata itu satu paket dengan event. Kalau agendanya banyak, kunjungan otomatis naik, dan hotel pasti kecipratan berkahnya. Sekarang kondisinya memang sedang berkurang,” tutur Idham.
Meski situasi di lapangan sedang tidak mudah, Idham tetap mengetuk kesadaran para pelaku usaha di Balikpapan agar tidak abai terhadap kewajibannya. Kepatuhan pelaporan pajak berkala kini terus diawasi ketat lewat sistem monitoring harian. [RUL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















