ANGKA pengangguran di Kaltim sekilas tampak membaik. Namun, di balik angka-angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim), ada cerita yang jauh lebih kompleks tentang dapur-dapur warga yang mulai mendingin, kota yang makin sesak, dan alarm keras bagi lulusan sekolah vokasi.
Data terbaru BPS per Februari 2026 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Bumi Etam berada di angka 5,27 persen. Angka ini hanya turun tipis, nyaris tak terasa, sebesar 0,06 persen poin dibanding periode yang sama tahun lalu.
Secara sederhana, dari setiap 100 orang angkatan kerja di Kaltim, masih ada 5 hingga 6 orang yang luntang-lantung mencari kerja. Masalahnya, penurunan tipis ini bukan kabar baik murni.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengungkapkan jumlah angkatan kerja justru menyusut sebanyak 16.850 orang. Di saat yang sama, jumlah penduduk yang bekerja juga berkurang 14.776 orang menjadi 1,99 juta orang.
“Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami penurunan sebesar 0,15 persen poin,” ujar Mas’ud dalam keterangan resminya.
Badai di Sektor Tambang
Selama puluhan tahun, batubara dan emas hitam menjadi urat nadi ekonomi Kaltim. Sektor ini menjadi tempat ribuan kepala keluarga menggantungkan nasib. Namun, potret Februari 2026 menjadi cermin pahit: sektor Pertambangan dan Penggalian kehilangan 40.356 pekerja.
Ini adalah angka yang besar. Puluhan ribu orang harus kehilangan mata pencaharian utama mereka akibat ketidakpastian komoditas sumber daya alam.
Beruntung, sektor Aktivitas Jasa Lainnya mampu menjadi sekoci penyelamat dengan menyerap 38.156 tenaga kerja baru. Disusul sektor administrasi pemerintahan dan sektor kesehatan. Perekonomian Kaltim perlahan dipaksa bergeser ke sektor jasa, meski belum sepenuhnya mampu menutup lubang menganga yang ditinggalkan sektor tambang.
Ironi Perkotaan di Tengah Geliat IKN
Hal yang paling mengejutkan dari data BPS kali ini adalah pergeseran peta pengangguran. Ketika wilayah perdesaan mulai bernapas lega dengan penurunan pengangguran yang signifikan, pusat-pusat kota di Kaltim justru semakin gerah.
Pengangguran di wilayah perkotaan naik menjadi 5,82 persen. Sebuah ironi besar yang terjadi tepat di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang awalnya digadang-gadang bakal menyedot banyak tenaga kerja lokal. Pusat kota kini menanggung beban berat migrasi dan persaingan kerja yang kian brutal.
Fenomena menarik juga terjadi pada ruang gender. Persaingan di kalangan pekerja laki-laki semakin ketat, membuat angka pengangguran mereka naik menjadi 5,59 persen. Sebaliknya, perempuan di Kaltim tampaknya mulai menemukan jalan baru di pasar kerja, di mana angka pengangguran perempuan sukses ditekan hingga turun ke level 4,65 persen.
Alarm Keras Buat Lulusan SMK
Catatan paling memukul dari hasil survei BPS ini mengarah langsung pada dunia pendidikan vokasi. Lulusan SMK, yang semula disiapkan untuk langsung siap kerja, justru mencatat angka pengangguran tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya, yaitu mencapai 8,81 persen.
Angka ini jauh melampaui lulusan SMA (6,20 persen) bahkan lulusan Diploma ke atas (6,67 persen). Sebaliknya, warga berpendidikan SD ke bawah justru hampir semuanya bekerja dengan angka pengangguran hanya 1,56 persen. Mereka massal masuk ke sektor informal tanpa perlu melewati proses seleksi yang rumit.
Menutup laporannya, Mas’ud Rifai mengingatkan bahwa Kaltim juga masih menyimpan bom waktu berupa tingginya angka pekerja paruh waktu. Ada 519.503 orang di Kaltim yang masuk kategori pekerja tidak penuh atau bekerja kurang dari 35 jam per minggu. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















