FENOMENA pelajar hamil dan melahirkan di usia dini rupanya masih menjadi awan mendung yang menyelimuti Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengakui kasus-kasus memilukan ini masih terus ditemukan di lapangan.
Meski begitu, masyarakat mungkin jarang mendengar kabar tersebut di permukaan. Hal ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Bontang sengaja memilih jalur “senyap” dalam menangani setiap kasus kehamilan di bawah umur demi menjaga masa depan sang anak.
“Kasus-kasus itu ada saja, bukan hanya di dokter swasta, di dokter pemerintah juga ada. Tetapi memang tidak kita ekspos seperti itu,” ujar Neni saat ditemui di Pendopo Rumah Jabatan, Selasa (2/6/2026).
Bagi Neni, mengekspos angka atau identitas korban bukanlah solusi. Fokus utamanya saat ini adalah bagaimana menekan angka kejadian tersebut melalui tindakan preventif yang lebih menyentuh akar rumput.
Ia menilai, kehamilan remaja adalah persoalan kompleks yang tidak berdiri sendiri. Salah satu pemicu utamanya adalah “tsunami” konten negatif di ruang digital yang sulit terbendung.
Neni menyoroti bagaimana pornografi merusak pola pikir dan perilaku anak-anak saat ini. Itulah sebabnya, ia mendukung penuh implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 terkait pembatasan akses digital bagi anak.
“Pembatasan ini bukan untuk membunuh kreativitas, tapi membentengi mereka dari pengaruh buruk seperti pornografi dan radikalisme,” tegasnya dengan nada serius.
Namun, regulasi pemerintah saja tidak akan cukup. Neni mengingatkan bahwa benteng terkuat sebenarnya ada di dalam rumah. Ia mengibaratkan orang tua sebagai “madrasah” pertama bagi setiap anak.
Komunikasi yang macet antara orang tua dan anak seringkali menjadi pintu masuk bagi pengaruh lingkungan yang buruk. Jika di rumah tidak ada kenyamanan, anak akan mencari pelarian di tempat lain yang belum tentu aman.
“Orang tua adalah madrasah pertama. Komunikasi yang baik itu sangat penting,” tambahnya lagi.
Selain keluarga, peran guru di sekolah sebagai orang tua kedua juga menjadi kunci. Sinergi antara rumah, sekolah, dan lingkungan sosial inilah yang diharapkan mampu memutus rantai kasus kehamilan dini di Bontang.
Neni menutup pembicaraan dengan menekankan bahwa masalah ini adalah tanggung jawab kolektif. Menangani kehamilan remaja tidak bisa sekadar dengan kata-kata, tapi butuh pendekatan hati yang holistik agar masa depan generasi muda Bontang tetap terjaga. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















