BUPATI Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, tampak gerah dengan kebiasaan generasi muda yang terlalu banyak menghabiskan waktu pada tataran teori. Di depan ratusan mahasiswa, ia melempar tantangan terbuka: berhenti berwacana dan mulailah mengotori tangan dengan praktik nyata.
Sentilan ini terlontar saat Ardiansyah menghadiri Talkshow Peternakan garapan mahasiswa STIPER Kutim di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Selasa (2/6/2026). Mengusung tema provokatif “Kaya Lahan, Miskin Peternak?”, Ardiansyah meminta mahasiswa tidak terjebak dalam diskusi tanpa aksi.
“Jangan banyak wacana, tapi langsung praktik, action!” tegas Ardiansyah dengan nada bicara yang mantap.
Bagi Ardiansyah, bicara soal pangan bukan sekadar angka di atas kertas atau kebijakan di balik meja. Ia punya cerita personal yang jarang diketahui publik. Saat memasuki masa pensiun pada medio 2016-2017, ia memilih pulang ke rumah dan menjadi peternak “rumahan”.
Ia memanfaatkan lahan pekarangan yang terbatas untuk memasang kolam terpal. Tak tanggung-tanggung, 4 ribu bibit ikan lele ia tebar di sana. Tidak hanya ikan, ia juga menanam cabai, pisang, jeruk nipis, hingga mangga.
“Dulu sempat bingung memasarkannya, tapi hasilnya terasa sekali. Limbah air kolamnya saya pakai untuk pupuk alami tanaman. Semuanya berputar, semua jadi manfaat,” kenangnya sembari berbagi tips kepada peserta talkshow.
Kebiasaan itu rupanya mendarah daging. Meski kini menjabat sebagai orang nomor satu di Kutai Timur, ia tetap menyempatkan diri mengurus angsa, ayam kampung, hingga tanaman obat di lingkungan rumah jabatannya.
Dalam forum tersebut, Ardiansyah juga memuji sosok-sosok lokal yang sudah “curi start”. Salah satunya Ikhvani Wulandari dengan “Vay Farm”-nya yang sukses memproduksi bibit ayam (DOC) mandiri dan mengembangkan budidaya maggot. Begitu juga ibu-ibu Dasawisma di Kampung Kajang yang menyulap lahan sempit menjadi kebun hidroponik produktif.
“Saya ingin Kutai Timur cepat muncul sebagai daerah yang siap. Tidak hanya swasembada, tapi kita harus berdaulat di bidang pangan,” ujarnya optimistis.
Kutai Timur memang bukan daerah sembarangan. Data menunjukkan daerah ini mampu memproduksi 15 ribu ekor sapi per tahun. Bahkan, produk hortikulturanya sudah merambah pasar Berau hingga Samarinda.
Lewat diskusi ini, Ardiansyah berharap muncul geliat ekonomi baru dari tangan anak muda. Baginya, kedaulatan pangan tidak akan pernah lahir dari meja seminar, melainkan dari mereka yang berani turun ke lahan. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















