NIAT hati melepas penat di akhir pekan, petaka justru datang menghampiri. Rifki (22), seorang pemanen di PT Dharma Satya Nusantara (DSN) Group, dilaporkan hilang misterius setelah terseret derasnya arus Sungai Melenyu 2, Desa Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim).
Hingga Selasa (2/6/2026), upaya pencarian memasuki hari kedua. Namun, tubuh pemuda malang itu belum juga menampakkan tanda-tanda keberadaan di tengah kepungan arus sungai yang dikenal cukup liar tersebut.
Di pinggir sungai, suasana terasa begitu menyesakkan. Musdalifah, istri korban, tak mampu menyembunyikan kecemasannya. Ia datang jauh-jauh dari Tenggarong, duduk bersimpuh di posko pencarian sembari menatap kosong ke arah aliran air, berharap sang suami muncul membawa keajaiban.
Kapolsek Muara Wahau, Iptu Sumartono, menceritakan bagaimana keceriaan hari itu berubah menjadi duka. Peristiwa bermula Minggu (31/5) siang, saat Rifki bersama tiga rekannya—Arman, Darman, dan Januar—pergi berekreasi ke tepi sungai.
Mereka sempat makan bersama dan tertawa di bawah keteduhan pohon. Menjelang sore, sekira pukul 16.40 Wita, keempatnya memutuskan berenang menyeberangi sungai. Sebenarnya mereka berhasil mencapai daratan seberang, namun fisik mereka terkuras hebat melawan tarikan air.
Maut datang saat mereka memutuskan kembali ke lokasi tenda semula. Saat berada di tengah sungai, tenaga Rifki rupanya sudah mencapai batas.
“Korban diduga tidak mampu lagi melawan derasnya arus. Rekan-rekan korban yang juga dalam kondisi lelah luar biasa tak bisa berbuat banyak saat melihat Rifki terseret dan hilang dari pandangan,” ujar Iptu Sumartono, mewakili Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto.
Operasi pencarian kini diperluas. Tim gabungan yang terdiri dari Polri, tim keamanan perusahaan, hingga warga lokal bahu-membahu menyisir setiap sudut sungai. Menariknya, empat penyelam tradisional juga dilibatkan, mencoba mencari di titik-titik palung sungai yang sulit dijangkau alat biasa.
Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto, menyatakan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa keluarga karyawan swasta tersebut. Ia mengingatkan warga untuk tidak meremehkan kekuatan arus sungai di wilayah Kutim, terutama saat kondisi fisik sedang tidak prima.
“Kami terus berupaya maksimal. Fokus kami adalah menemukan korban secepat mungkin dengan tetap memperhatikan keselamatan tim di lapangan,” tegasnya. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















