KABAR lowongan guru di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) selalu menjadi magnet kuat bagi para pencari kerja. Buktinya, sebanyak 494 pelamar kini tengah “sikut-sikutan” demi mendapatkan satu dari 65 kursi guru pengganti yang dibuka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang.
Meski status yang ditawarkan hanya bersifat sementara atau temporer, animo masyarakat ternyata tetap meluap. Gerbang pendaftaran resmi ditutup 26 Mei 2026, dan kini ratusan nasib pelamar sedang dipertaruhkan di meja seleksi administrasi.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengakui fenomena ini sebagai bukti bahwa profesi pendidik masih menjadi primadona di mata masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa jalan menuju ruang kelas tidaklah mudah.
“Minatnya tinggi sekali. Tapi tentu ada tahapan dan kualifikasi ketat yang harus dipenuhi,” ujar Abdu Safa saat ditemui di Pendopo Rumah Jabatan, Selasa (2/6/2026).
Gaji Rp4 Juta dan Dominasi Perempuan
Angka Rp4 juta per bulan ditengarai menjadi daya tarik utama. Meski berstatus guru pengganti, mereka dijanjikan insentif Rp2 juta sebagai guru swasta plus tambahan Rp2 juta dari dana BOSDA. Angka yang cukup kompetitif untuk ukuran penghasilan di sektor pendidikan saat ini.
Menariknya, dari data pelamar, wajah pendidikan kita masih didominasi oleh kaum hawa. Tercatat ada 376 pelamar perempuan, berbanding jauh dengan pelamar laki-laki yang hanya berjumlah 118 orang.
Persaingan paling “berdarah-darah” terjadi di formasi Guru Kelas SD. Bayangkan saja, ada 128 orang yang harus berebut 20 kursi. Artinya, satu pelamar harus menyingkirkan setidaknya enam pesaing lainnya.
Kondisi serupa terjadi pada posisi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan 51 pelamar untuk 3 posisi, serta Guru Kelas TK yang diincar 50 orang untuk mengisi 4 formasi saja.
Abdu Safa menegaskan kembali bahwa posisi ini memiliki masa kontrak yang sangat fleksibel. “Ini sifatnya mengisi kekosongan sementara. Bisa satu bulan, beberapa bulan, atau setahun, tergantung kebutuhan sekolah,” jelasnya.
Namun, tingginya peminat ini ternyata menyisakan kekhawatiran di sisi lain. Sejumlah sekolah swasta mulai waswas guru-guru terbaik mereka bakal “hijrah” ke program ini.
Menanggapi hal itu, Abdu Safa bersikap bijak. Ia menegaskan tidak bisa membatasi hak individu untuk mencari penghidupan yang lebih baik, namun tetap berharap ada komunikasi yang baik antara guru dan sekolah asal.
Bagi mereka yang lolos administrasi pada 4 Juni mendatang, perjuangan barulah dimulai. Tes tertulis sudah menanti pada 8 Juni 2026.
Puncaknya adalah tahap micro teaching pada 10-11 Juni. Di sini, bukan hanya kecerdasan otak yang diuji, tapi mental saat berdiri di depan kelas. Peserta harus membuktikan kemampuan mereka berinteraksi dengan siswa hingga mengelola suasana kelas secara nyata.
Siapa yang akan bertahan? Hasil akhir baru akan diumumkan pada 19 Juni 2026. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















