Ketua DPRD Bontang: Wartawan Jangan Dijadikan Musuh saat Unjuk Rasa

Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Hasdam.

PRANALA.CO, Bontang – Dukungan terhadap gerakan Solidaritas Jurnalis Bontang direspon positif Ketua DRPD Bontang, Andi Faizal Hasdam. Dia mengapresiasi insan pers Bontang yang turut bersimpati terhadap rekan-rekannya, yang jadi korban represif oknum aparat kepolisian di berbagai belahan wilayah Indonesia.

Menurutnya, pembelaan sesama rekan satu profesi wajar dilakukan para jurnalis Bontang, melihat insiden yang belakangan terjadi pada momentum gelombang unjuk rasa yang terjadi belakangan ini.

Apa yang dilakukan jurnalis Bontang merupakan wujud kesetiakawanan, juga sepenanggungan rasa terhadap rekan-rekan sesama profesi mereka.

“Saya yang jadi bagian dari masyarakat Bontang bangga memiliki insan pers yang peduli dengan nasib sesamanya. Itu baik, pun dengan Polres Bontang yang dengan tangan terbuka menerima rekan-rekan kemarin,” ungkapnya.

Politisi GolkarBontang ini menambahkan, polisi wajib melindungi kerja-kerja pers saat berada di arena unjuk rasa. Bukannya malah menjadikan pers sebagai sasaran yang mesti diamankan.

Pers menjalankan fungsinya juga berdasarkan perintah UU. Pun demikian dengan polisi. Penghargaaan dan rasa hormat harus juga dijunjung tinggi antar kedua belah pihak.

“Patut disayangkan masih saja ada jurnalis yang jadi korban kekerasan oknum aparat. Padahal mereka, saat unjuk rasa berdiri di tengah. Tak berdiri di sisi di kedua belah pihak yang berbenturan saat unjuk rasa,” sesalnya.

Dia juga meminta aparat kepolisian agar profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya. “Polisi itu, kan, mengayomi dan melayani masyarakat. Sudah barang tentu harus bersikap terukur di lapangan. Wartawan jangan dijadikan musuh saat unjuk rasa,” urainya.

Lebih lanjut, bahwa dalam situasi tertentu saat unjuk rasa memang tak bisa diprediksi. Agus Haris memahami kondisi psikis aparat yang juga mati-matian mengamankan jalannya demonstrasi.

Namun, apabila seorang jurnalis telah mengangkat kartu pers, menunjukkan identitasnya, sudah seharusnya penghormatan profesi yang melekat lada diri mereka harus disadari pihak kepolisian.

“Saya pikir memang harus diperbaiki sama-sama. Yang dihadapi ini semua anak banhsa. Pola pendekatan semoga bisa lebih humanis. Di lapangan ada yang berlebihan, suka tidak suka harus dierima, bukan lantas mengambil tindakan yang menciderai profesi jurnalis,” tuturnya.

Kendati demikian, Faiz yakin jajaran kepolisian di Bontang mampu profesional dan komitmen menegakkan profesionalismenya dalam menjalankan tugasnya.

“Yang patut disyukuri sampai hari ini belum ada benturan polisi dan pers di Bontang. Semoga bisa dijaga hubungan baik antar keduanya,” tutupnya.

 

 

[pariwara]

More Stories
Industri Rumahan Ekstasi di Samarinda Terbongkar