Pranala.co, KALTIM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas pada perdagangan Senin (23/6. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu gelombang kepanikan di pasar.
Hingga pukul 14.58 WIB, IHSG terkoreksi tajam 2,24% atau turun 155 poin ke posisi 6.752,09.
Dari total 797 saham yang diperdagangkan, 565 saham melemah, 106 saham menguat, dan 126 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp10,18 triliun, dengan volume 20,9 miliar saham dalam lebih dari 1,12 juta transaksi.
Pada sesi pagi, IHSG juga sempat jatuh lebih dari 2%, sebelum sempat memangkas pelemahan menjadi -1,7% di akhir sesi I. Namun, tekanan jual kembali meningkat di sesi II.
Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada, menyebut bahwa sentimen utama yang menjatuhkan pasar adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Trump mengumumkan telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Meski Iran membantah, ketegangan tetap meningkat,” kata Reza kepada CNBC Indonesia.
Presiden AS Donald Trump mengklaim militer AS menyerang tiga situs nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan, pada Sabtu malam waktu setempat.
Trump menyebut serangan itu sebagai “operasi militer yang sangat sukses.” Operasi tersebut melibatkan pesawat pembom B-2 milik AS.
Iran langsung bereaksi. Pemerintah menyatakan siap menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Media Iran, Press TV, melaporkan bahwa parlemen sudah mencapai konsensus. Keputusan akhir tinggal menunggu restu Dewan Keamanan Nasional Iran dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Penutupan Selat Hormuz bisa membawa dampak global. Jalur ini menyalurkan: Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia; sekira 30–35% LNG global
Lembaga seperti Macquarie memperkirakan, jika gangguan mencapai 15 juta barel per hari, harga minyak bisa melonjak ke US$ 240 per barel.
Sementara itu, Bloomberg memprediksi harga bisa tembus US$ 130 per barel, yang dapat mendorong inflasi AS ke 3,9% secara tahunan (year-on-year).
Jika harga minyak terus meroket, maka inflasi bisa meningkat tajam. Goldman Sachs dan Rapidan Energy memperingatkan risiko inflasi global melonjak. Situasi ini akan membuat penurunan suku bunga tertunda, dan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Pasar diprediksi akan kembali masuk ke mode risk-off. Investor cenderung mengalihkan portofolio ke: Sektor energi dan komoditas dan aset lindung nilai seperti emas
Sejak konflik Iran-Israel pecah pada 13 Juni 2025, harga minyak sudah melonjak 11%.
[DIAS/RED]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















