DI SEBUAH sudut Jalan Bolu Lempangan, Kelurahan Tumampua, Kecamatan Pangkajene, Pangkep waktu seolah berjalan begitu lambat. Di rumah sederhana yang kini tertimbun tumpukan sampah, Nenek Oga menghabiskan hari-harinya dalam sunyi.
Tubuhnya makin ringkih dimakan usia. Sementara di sampingnya, Cadayanti—sang anak yang mengidap gangguan jiwa—hanya bisa bersandar tanpa sanggup berbuat banyak. Kedua jiwa ini terperangkap dalam kemiskinan ekstrem yang memilukan.
Untuk mengisi perut yang kerap kosong, Nenek Oga tak punya pilihan selain menunggu. Jika bukan karena belas kasih tetangga dan sanak saudara yang datang membawakan piring berisi nasi, dapur rumah itu mungkin tak pernah mengepul.
Hasma, kerabat sekaligus tetangga dekat Nenek Oga, tak pernah tega melihat kondisi tersebut. Setiap hari, warga sekitar bergotong royong memastikan pasangan ibu dan anak ini tidak mati kelaparan.
"Sering kami beri makanan, bersama keluarga dan tetangga lain. Kalau tidak dibantu, kasihan sekali. Kadang mereka sama sekali tidak makan," tutur Hasma dengan nada bergetar.
Keadaan makin tak manusiawi ketika mengintip ke dalam rumah. Gunungan sampah mengular dari pintu hingga sudut ruangan, menciptakan udara megap dan risiko penyakit yang mengintai setiap detik.
Jeritan dari rumah lapuk ini akhirnya mengetuk pintu Gedung DPRD Pangkep. Anggota DPRD Pangkep, Syamsinar, mendesak Pemerintah Kabupaten setempat untuk tidak menutup mata atas tragedi kemanusiaan di tengah kota ini.
Syamsinar meminta Dinas Sosial, Dinas Perkim, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera bergerak mengintervensi kondisi Nenek Oga dan anaknya.
"Kami minta pemda carikan solusi agar Nenek Oga bisa ditempatkan di panti jompo atau panti rehabilitasi supaya makanannya terjamin. Kalau begini terus, kondisinya makin kurus karena sering menahan lapar," tegas Syamsinar.
Tak hanya Nenek Oga, kesehatan mental Cadayanti juga menjadi sorotan. Syamsinar menekankan perlunya penanganan medis profesional di rumah sakit jiwa agar Cadayanti bisa pulih dan mendapatkan hidup yang lebih layak.
"Anaknya harus dirawat dulu sampai membaik. Pemerintah harus mengkaji ini secara serius. Jangan lupa, tumpukan sampah di rumahnya juga harus dibersihkan agar layak huni," lanjutnya.
Merespons kabar ini, Lurah Tumampua, Mardiana, membenarkan bahwa Nenek Oga dan Cadayanti adalah warganya. Pihaknya mengklaim telah memberikan perhatian dan bantuan secara berkala.
"Iya, itu warga saya dan sangat saya perhatikan. Memang saya selalu beri bantuan beras, uang, dan kebutuhan lainnya," singkat Mardiana.
Kisah Nenek Oga adalah cermin retak di tengah gempita pembangunan Pangkep. Di balik megahnya angka-angka statistik daerah, kehadiran negara secara utuh sangat dinantikan oleh mereka yang paling rentan. (*)















