SEBUAH gerakan sederhana di tingkat akar rumput berbuah manis. Berbekal iuran swadaya Rp10 ribu dari para Ketua RT, Kota Samarinda melesat cepat melampaui target nasional dalam urusan menekan angka stunting Samarinda.
Dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting di Kota Tepian merosot. Pada 2020 lalu, angkanya sempat bertengger di posisi 24,7 persen, lalu merosot ke 17,1 persen pada 2025. Pencapaian ini melampaui patok target nasional 2026 yang ditetapkan sebesar 18,8 persen.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengungkapkan kebanggaannya atas kolaborasi warga ini. Langkah nyata masyarakat bawah terbukti memberi dampak langsung pada tumbuh kembang balita.
"Kita berjuang bersama agar stunting di Samarinda bisa turun hingga nol persen," tegas Saefuddin dalam acara penutupan program di Aula Kelurahan Lempake, Samarinda, Kamis (30/7/2026).
Rahasia besar di balik keberhasilan ini ada pada inovasi bernama Gerakan Ketua RT Sepuluh Ribu Cegah Stunting (GERET BUNTING) dan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (OTA GENTING).
Prinsipnya tak rumit, tetapi dampaknya nyata. Para Ketua RT dan warga mampu yang tergerak secara sukarela menyisihkan dana untuk menjadi orang tua asuh bagi ibu hamil berisiko dan anak-anak kurang mampu.
Hasilnya di luar dugaan panitia. Dari target awal mendampingi 2.126 sasaran, gerakan gotong royong ini justru menjangkau 2.776 sasaran yang tersebar di 10 kecamatan.
Total dana swadaya murni dari kantong warga dan kepedulian bersama yang terkumpul mencapai Rp352,6 juta.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda, Deasy Evriyani, menyebut partisipasi aktif para Ketua RT di Kelurahan Lempake menjadi pemicu semangat bagi wilayah lain.
"Gerakan ini menyasar langsung ibu hamil berisiko dan keluarga kurang mampu. Kami menargetkan angka stunting terus turun menjadi 14 persen pada 2030 dan menyentuh 5 persen pada 2045," terang Deasy.
Jalan panjang menekan stunting di Samarinda bukan tanpa kelok. Grafik stunting sempat naik turun akibat hantaman pandemi Covid-19, bahkan sempat menyentuh angka tertinggi 25,30 persen pada periode 2020–2022.
Namun intervensi lokal yang berfokus pada kebutuhan gizi nyata keluarga berisiko membuat keadaan berbalik. Memasuki 2026, Pemkot Samarinda menjaga konsistensi ini lewat penguatan peran kader RT di tiap sudut kota.
Langkah swadaya ini turut menuai pujian dari Kepala Kemendukbangga/BKKBN Kalimantan Timur, Sunarto. Ia mengapresiasi kepekaan sosial para Ketua RT yang rela melangkah lebih jauh demi masa depan anak-anak di lingkungannya. (*)















