VIDEO singkat memperlihatkan puluhan anak sekolah dasar belajar beralaskan seadanya dan berbumbungkan terpal beredar luas di media sosial. Pemandangan miris ini datang dari SD 001 Filial Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim).
Kondisi tersebut langsung menyita perhatian publik. Banyak yang mempertanyakan komitmen fasilitas pendidikan dasar di daerah tersebut, mengingat ada 50 murid yang sehari-hari menggantungkan masa depan mereka di bawah naungan terpal rapuh itu.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau tak menampik keberadaan fasilitas darurat tersebut. Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, menyebutkan bahwa pendirian kelas filial ini awalnya bertujuan mulia: mendekatkan akses belajar bagi anak-anak yang kesulitan menjangkau sekolah utama.
Namun, persoalan sengketa dan kepemilikan lahan membuat Disdik belum bisa membangun gedung permanen di lokasi tersebut.
"Sekolah filial ini memang kami siapkan untuk anak-anak yang terkendala akses. Tapi untuk pembangunan fisik, kami masih terganjal status lahan," terang Mardiatul usai menggelar rapat darurat bersama tokoh masyarakat dan ketua RT setempat.
Merespons polemik yang kian membesar, Disdik Berau mengambil langkah cepat. Hasil musyawarah menyepakati seluruh siswa kelas filial akan dipindahkan ke sekolah induk di Kampung Birang.
Persoalan jarak yang selama ini menjadi tembok penghalang bagi para murid juga dicari pemecahannya. Disdik berjanji berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Berau untuk memfasilitasi angkutan sekolah.
"Kami siapkan transportasi agar anak-anak bisa sampai ke sekolah induk dengan aman. Jadi tidak ada lagi alasan mereka terputus sekolah," tegasnya.
Selain relokasi fisik, Disdik menyusun opsi pembelajaran fleksibel. Kombinasi tatap muka dan belajar dari rumah (hybrid) siap diterapkan jika ada situasi mendesak yang menyulitkan mobilitas siswa.
Langkah pemerintah ini diimbangi dengan determinasi warga lokal. Ketua RT dan para orang tua murid sempat mengusulkan agar pembangunan ruang kelas dilakukan secara swadaya tanpa menunggu proses birokrasi lahan yang berbelit.
Langkah warga ini disambut terbuka oleh Kadisdik. Mardiatul mengapresiasi kepedulian masyarakat terhadap pendidikan anak-anak mereka.
Bahkan, ia menyatakan kesiapannya untuk menyumbang secara pribadi demi mempercepat pembangunan swadaya tersebut.
"Secara pribadi saya siap bantu meringankan beban warga kalau mau swadaya. Tapi secara instansi, begitu legalitas lahan bersih, pembangunan gedung permanen langsung kami usulkan," tambahnya. (*)















