Bontang, PRANALA.CO – Harga batu bara kembali terjun bebas minggu ini, bahkan mencatatkan level terendah sejak empat tahun lalu. Angka yang tercatat Kamis (17/4/2025) adalah US$97,05 per ton, turun 1,22% dibandingkan dengan perdagangan sehari sebelumnya.
Dalam sepekan ini saja, harga batu bara anjlok hingga 2%. Kondisi ini memicu banyak pertanyaan, mengingat sebelumnya batu bara selalu menjadi komoditas yang cukup stabil di pasar global. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di balik penurunan harga batu bara yang tajam ini?
Jawabannya terletak pada penurunan impor yang signifikan dan kelebihan pasokan global yang semakin parah. China, sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia, telah mengurangi impor batu bara sebanyak 6% pada Maret 2025. Penurunan tersebut dipicu tingginya stok batu bara di pelabuhan-pelabuhan China dan permintaan domestik yang semakin lesu.
Pada Maret 2025, China tercatat mengimpor 38,73 juta metrik ton batu bara, turun dari 41,38 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi penurunan impor tahunan pertama sejak Maret 2022—kecuali periode Januari-Februari yang dipengaruhi oleh libur Tahun Baru Imlek. Fenomena ini menunjukkan bahwa permintaan dari pasar utama batu bara dunia sedang melemah, sebuah kondisi yang mengkhawatirkan bagi para produsen.
Selain itu, masalah lain yang memperburuk situasi adalah overproduksi batu bara yang justru memicu penurunan harga. Produksi batu bara China tercatat mencapai rekor tertinggi bulan lalu, sementara pembangkit listrik tenaga uap mengalami penurunan produksi yang tajam. Ini menciptakan kelebihan pasokan yang cukup besar di pasar global, dan semakin memperburuk penurunan harga batu bara.
Di balik semua ini, ada juga dampak dari ketegangan perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang turut memengaruhi perekonomian kedua negara. Pertumbuhan ekonomi yang terhambat menyebabkan konsumsi batu bara menjadi lebih rendah, yang berujung pada penurunan harga yang tajam.
Namun, ada secercah harapan di tengah kejatuhan harga yang tak terkendali ini. Beberapa pihak meyakini bahwa harga batu bara kemungkinan akan sedikit terangkat dalam waktu dekat.
Steve Hulton, Wakil Presiden Senior Pasar Batu Bara di Rystad Energy, mengatakan bahwa pasar batu bara laut diperkirakan akan bergerak mendatar sementara waktu akibat gangguan perdagangan global yang belum juga selesai.
Meskipun demikian, menurut Hulton, harga batu bara berpotensi naik karena beberapa produsen, terutama yang berada di tingkat biaya tertinggi, mulai kesulitan dengan harga yang kini berada di bawah US$100 per ton.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan besar seperti Glencore Plc, yang merupakan salah satu pengapalan batu bara terbesar di dunia, mulai mengambil langkah untuk mengurangi produksi. Glencore mengumumkan bahwa mereka akan memangkas produksi di tambang Cerrejon di Kolombia guna menanggulangi kejatuhan harga batu bara yang berkepanjangan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















