PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mulai mengubah pola pembinaan ekonomi kreatif. Tidak lagi hanya mengandalkan bantuan pemerintah, pelaku usaha kreatif kini didorong masuk ke ekosistem bisnis melalui kemitraan dengan perusahaan BUMN.
Skema itu disampaikan dalam kegiatan Penguatan Strategi Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah (Rindekrafda) 2026–2030 di Temindung Creative Hub, Samarinda, Rabu (13/5/2026).
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi mengatakan pemerintah telah menggandeng belasan perusahaan BUMN untuk menjadi “Bapak Angkat” bagi pelaku ekonomi kreatif di daerah.
“Kami ingin pelaku kreatif tidak berhenti hanya di produksi. Tantangan terbesar justru pemasaran dan akses pasar,” kata Ririn.
Melalui pola kemitraan tersebut, perusahaan BUMN akan membantu promosi, distribusi, hingga penguatan branding produk kreatif lokal. Program itu menyasar komunitas kreatif di kabupaten dan kota yang selama ini dinilai kesulitan memperluas jaringan usaha.
Ririn menyebut strategi baru itu juga diselaraskan dengan Rindekrafda 2026–2030 yang fokus pada tujuh subsektor unggulan ekonomi kreatif. Selain penguatan pasar, pemerintah menyiapkan inkubasi bisnis dan transfer pengetahuan bagi komunitas kreatif muda.
“Kami ingin lebih banyak pelaku ekonomi kreatif Kaltim yang mampu menembus pasar ekspor,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah menilai kolaborasi lintas sektor menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi kreatif di Kaltim mulai meningkat. Berdasarkan data Pemprov Kaltim, kontribusi ekonomi kreatif mencapai 6,9 persen pada 2025 dengan sektor kuliner, fesyen, dan kriya sebagai penggerak utama.
Pemprov Kaltim berharap keterlibatan perusahaan negara dapat mempercepat lahirnya pelaku usaha kreatif baru sekaligus memperkuat ekonomi daerah yang selama ini masih bertumpu pada sektor ekstraktif. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















