PEMERINTAH pusat kembali mengkaji realisasi proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Proyek senilai Rp164 triliun itu diproyeksikan menjadi salah satu andalan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Direktur Perdesaan, Daerah Afirmasi, dan Transmigrasi Kementerian PPN/Bappenas Mohammad Roudo mengatakan proyek DME Kutai Timur dipastikan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Saat ini, pemerintah masih melakukan pendalaman terkait lokasi dan kesiapan pendukung proyek.
“Kami mendetailkan kembali proyek DME Kutai Timur yang dipastikan masuk Proyek Strategis Nasional,” ujar Roudo, Kamis (7/5/2026).
Pemerintah menilai pengembangan DME menjadi langkah strategis untuk menekan impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara. DME merupakan bahan bakar alternatif hasil gasifikasi batu bara yang diproyeksikan bisa menggantikan LPG secara bertahap.
Roudo menyebut lokasi pembangunan pabrik masih difokuskan di sekitar kawasan tambang besar di Kalimantan Timur. Namun, pemerintah disebut tidak hanya mempertimbangkan aspek industri, melainkan juga kesiapan infrastruktur hingga dampak lingkungannya.
“Pemerintah mesti memastikan infrastruktur, sistem kesehatan, kepastian pasokan, pengelolaan lingkungan, dan restorasi tambang,” katanya.
Di tengah ambisi besar hilirisasi energi itu, proyek DME sebelumnya sempat menghadapi ketidakpastian setelah investor asal Amerika Serikat mundur dari rencana investasi. Kondisi itu sempat memunculkan keraguan terhadap kelanjutan proyek gasifikasi batu bara tersebut.
Namun, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengatakan investor asal China kini mulai menunjukkan minat untuk melanjutkan proyek tersebut.
“Meskipun investor Amerika Serikat sempat mundur, penanam modal asal Tiongkok kini mulai menunjukkan niat serius untuk melanjutkannya,” ujar Ardiansyah mengutip Antara.
Pemerintah pusat menargetkan substitusi penuh penggunaan LPG ke DME dapat tercapai pada 2040. Selain mendukung ketahanan energi, proyek ini juga diperkirakan menyerap hingga 34.800 tenaga kerja lokal dan nasional.
Di Kaltim, proyek hilirisasi batu bara ini juga dikaitkan dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy dan dorongan transformasi ekonomi daerah berbasis industri hilir.
Meski demikian, proyek DME masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan investasi besar, keberlanjutan pasokan batu bara, hingga isu lingkungan yang kerap melekat pada industri gasifikasi batu bara. [ANT/RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















