LANGKAH kaki para petani di Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur (Kutim), tak lagi bisa berkompromi dengan lumpur dan lubang. Bertahun-tahun melintasi Jalan Daeng Masese yang rusak parah, warga akhirnya memilih mengambil sikap tegas: tidak mau pasrah menunggu uluran tangan pemerintah.
Pada Minggu (26/7/2026), puluhan warga bersama petani setempat turun ke jalan. Membawa cangkul, sekop, dan semangat kebersamaan demi menimbun akses jalan sepanjang 600 meter yang selama ini menghambat urat nadi perekonomian mereka.
Aksi gotong royong ini lahir dari keresahan nyata di lapangan. Jalan Daeng Masese merupakan rute vital bagi lalu lintas hasil pertanian, perkebunan, hingga peternakan warga menuju pasar.
Ketua RT 06 Desa Suka Rahmat, Rusdiana, mengungkapkan bahwa aksi ini murni digerakkan rasa peduli dan kebutuhan mendesak. Tanpa sokongan dana publik dari anggaran daerah, warga bahu-membahu mengumpulkan rupiah demi rupiah.
"Alhamdulillah, hari ini kami bersama warga turun untuk memperbaiki jalan permukiman kami yang kondisinya rusak serta berlubang. Kami lakukan penimbunan dan pengerasan hampir di sepanjang ruas jalan sepanjang 600 meter," kata Rusdiana di lokasi kegiatan.
Dari hasil swadana tersebut, terkumpul dana lebih dari Rp10 juta. Uang hasil keringat para petani dan warga permukiman itu langsung dibelikan sekitar 20 rit material agregat untuk meratakan jalan.
Bagi para petani di Teluk Pandan, setiap meter jalan yang berlubang adalah ancaman bagi hasil panen mereka. Sayur-mayur, hasil kebun, hingga ternak kerap terlambat sampai ke pembeli akibat akses yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan tiba.
Sumbangan yang terkumpul bukan sekadar deretan angka, melainkan wujud rasa saling bantu agar mata pencaharian warga tetap bernapas.
"Gotong royong pengerasan jalan kali ini murni dananya dari patungan atau sumbangan warga dan petani sekitar yang lalu lintas menggunakan Jalan Daeng Masese untuk mengantar hasil pertanian, perkebunan, dan ternak mereka," tegas Rusdiana.
Langkah berswadaya ini menjadi bukti bahwa kepedulian publik di tingkat tapak masih sangat kuat. Warga menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap ruang hidup mereka sendiri.
Kendati perbaikan kali ini mengandalkan kemampuan swadana, komitmen warga untuk merawat fasilitas lingkungan tidak akan berhenti di sini.
"Dengan semangat dari warga untuk warga, kami berkomitmen terus berpartisipasi membangun dan memelihara fasilitas umum yang ada sebagai bentuk kebersamaan," tutup Rusdiana. (*)















