WARGA yang sering melintasi kawasan Balikpapan Selatan pasti paham betul betapa melelahkannya menghadapi kondisi Jalan Syafrudin Yoes Balikpapan yang kerap amblas. Pemerintah Kota Balikpapan akhirnya mengambil langkah ekstrem demi mengakhiri drama penambalan jalan yang tak kunjung usai ini.
Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp9,6 miliar resmi digelontorkan untuk merombak total ruas jalan sepanjang 90 meter tersebut. Pemkot Balikpapan menegaskan tidak akan ada lagi proyek tambal sulam murah yang terbukti mubazir di titik jalan longsor Balikpapan ini.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mengungkapkan alasan di balik keputusan berani mengambil dana darurat ini. Baginya, mempertahankan metode lama sama saja dengan membuang-buang uang rakyat secara sia-sia.
"Kalau hanya diaspal, sekitar Rp100 juta, seminggu kemudian rusak lagi. Karena itu kami ingin menyelesaikan sumber permasalahannya," ujar Bagus saat meninjau langsung lokasi proyek Selasa, 7 Juli 2026.
Hasil kajian teknis mengungkap fakta mengejutkan yang menjadi biang kerok jalan amblas Balikpapan ini. Di bawah aspal yang saban hari dilewati kendaraan, ternyata terdapat lapisan tanah lunak yang sangat tebal.
Lapisan labil inilah yang terus bergerak dan membuat struktur jalan di atasnya ambrol berkali-kali. Kali ini, penanganan difokuskan secara vertikal demi mengunci pergeseran tanah tersebut secara permanen.
Saat ini, proyek perbaikan jalan Balikpapan tersebut sudah memasuki tahap krusial, yaitu pembangunan fondasi utama (foot plate). Proses pemasangan tiang pancang pun dikabarkan telah rampung dikerjakan oleh tim di lapangan.
Sinergi antara Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur dan Pemkot Balikpapan ini mencatat progres fisik sekitar 30 persen. Dimulai sejak pertengahan Mei lalu, proyek kakap ini ditargetkan tuntas sepenuhnya pada 24 Agustus 2026.
Bagus Susetyo mengaku cukup optimistis proyek berjalan sesuai jadwal, asalkan faktor alam bersahabat. Tantangan terbesar para pekerja saat ini adalah intensitas hujan yang mulai meninggi di wilayah Balikpapan.
Kontraktor diminta bersiap dengan memasang terpal pelindung pada material timbunan agar tidak jenuh air. Selain itu, penambahan tenaga kerja terus didorong agar akselerasi proyek bisa tercapai tanpa mengorbankan kualitas beton.
Bagus juga meluruskan rasa penasaran publik mengenai penggunaan anggaran BTT Balikpapan yang terkesan mendadak. Langkah ini diambil murni karena urgensi keselamatan pengendara yang tidak bisa ditunda lagi.
Jika Pemkot Balikpapan memilih jalur birokrasi normal dengan menunggu anggaran reguler, perbaikan permanen ini kemungkinan besar baru bisa dieksekusi pada 2027. Waktu tunggu yang terlalu lama dan berisiko memakan korban jiwa.
Meski dikejar waktu, Pemkot Balikpapan mengingatkan pelaksana proyek untuk tetap menjaga komunikasi dengan warga sekitar, terutama pemilik lahan yang berbatasan langsung. Pendekatan humanis wajib diutamakan agar konflik sosial tidak meletus di tengah jalannya proyek. (*)
















