Pranala.co, BONTANG – Upaya menahan laju sampah kiriman ke kawasan permukiman mulai dilakukan di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kota Bontang. Langkah awalnya sederhana, namun penting. Jaring sampah dipasang di aliran sungai sekitar Pasar Taman Rawa Indah (Tamrin), Senin (22/12/2025).
Kawasan ini memang lama dikenal sebagai titik rawan penumpukan sampah. Setiap air laut surut, arus membawa sampah dari laut dan aliran sekitar. Sampah lalu mengendap. Menumpuk. Masuk ke lingkungan warga.
Lurah Tanjung Laut Indah, Ardiansyah, mengatakan pemasangan jaring dilakukan sebagai langkah pencegahan. Tujuannya jelas. Menahan sampah agar tidak terus mengalir ke kawasan hunian.
“Langkah awal kami pasang dulu di sekitar Pasar Tamrin. Di sinilah titik sampah paling banyak menumpuk di aliran sungai,” ujar Ardiansyah.
Jaring sampah yang dipasang sepanjang kurang lebih 20 meter. Anggarannya berasal dari dana kelurahan. Pemasangan ini bersifat percontohan. Jika efektif, metode serupa akan diterapkan di lokasi lain yang memiliki persoalan sama.
“Ini masih tahap awal. Paling tidak bisa menahan sampah agar tidak langsung masuk ke permukiman warga,” jelasnya.
Menurut Ardiansyah, kondisi geografis Pasar Taman Rawa Indah membuat kawasan ini sangat rentan. Saat air surut, sampah kiriman hampir pasti datang. Dan titik terparah selalu berada di sekitar pasar.
“Kalau air surut, sampah pasti masuk. Dan yang paling parah memang di sekitar Pasar Taman Rawa Indah,” tambahnya.
Untuk mencegah masalah baru, kelurahan tidak bekerja sendiri. Koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang terus dilakukan. Sampah yang tertahan di jaring akan diangkut secara rutin agar tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.
“Kami terus berkoordinasi dengan DLH supaya sampah yang tertahan bisa segera diambil. Harapannya lingkungan warga lebih bersih,” kata Ardiansyah.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Bontang. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memastikan program pemasangan jaring sampah akan dilanjutkan pada tahun depan, khususnya di wilayah pesisir Tanjung Laut Indah.
“Insyaallah tahun depan kita anggarkan jaring sampahnya. Sekitar Rp200 juta sudah cukup,” ujar Neni usai meninjau langsung lokasi pemasangan jaring di Pasar Tamrin.
Neni mengungkapkan, produksi sampah di Kota Bontang saat ini mencapai sekitar 100 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 40 persen merupakan sampah plastik. Penyumbang terbesar sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) masih berasal dari rumah tangga, mencapai 80 persen.
Ia menegaskan, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan infrastruktur. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama.
“Kesadaran membuang sampah pada tempatnya masih kurang. Kemarin setelah pesta rakyat, sampah berserakan di mana-mana. Kebiasaan seperti ini yang harus kita ubah bersama,” tegasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















