PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) menghasilkan timbulan sampah lebih dari 1,4 ton per hari. Data hasil pengawasan BPKP mencatat sampah organik mencapai 1.232,25 kilogram, sedangkan sampah anorganik sebanyak 208,82 kilogram per hari.
Angka tersebut berasal dari operasional 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani 39.662 penerima manfaat di Bontang.
Data itu merupakan bagian dari pendataan timbulan sampah program MBG di Kalimantan Timur. Penimbangan dilakukan selama lima hari, yakni 20-24 April 2026, pada 137 dari total 196 SPPG di Kaltim.
Dari total timbulan sampah yang tercatat di Bontang, sampah organik menjadi bagian terbesar. Rata-rata sampah organik mencapai 1.232,25 kilogram per hari. Jika dikonversi, jumlah tersebut setara sekitar 1,23 ton setiap hari.
Sampah anorganik dari operasional SPPG Bontang tercatat 208,82 kilogram per hari atau sekitar 0,21 ton.
Jika kedua jenis sampah tersebut dijumlahkan, timbulan sampah dari SPPG di Bontang mencapai sekitar 1.441,07 kilogram atau 1,44 ton per hari.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan MBG tidak hanya berkaitan dengan produksi dan distribusi makanan, tetapi juga menghasilkan limbah yang harus dikelola secara terpisah dan teratur.
Bontang Masuk Tiga Besar di Kaltim
Dalam data sembilan kabupaten/kota yang tercantum, Bontang menjadi salah satu daerah dengan timbulan sampah organik terbesar.
Bontang berada di bawah Kutai Kartanegara yang mencatat 2.769,18 kilogram sampah organik per hari dan Samarinda dengan 2.714,44 kilogram per hari.
Bontang sendiri memiliki 20 SPPG dengan 39.662 penerima manfaat. Angka tersebut menempatkan Bontang sebagai daerah dengan jumlah timbulan sampah organik terbesar ketiga di Kaltim.
Besarnya timbulan tersebut juga tidak terlepas dari aktivitas dapur SPPG yang setiap hari menyiapkan makanan untuk puluhan ribu penerima manfaat.
Besarnya timbulan sampah dari operasional MBG menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kaltim, Andi Sitti Asti Suriaty, mengingatkan seluruh SPPG agar menjalin kemitraan dengan pihak ketiga atau kelompok swadaya masyarakat dalam mengelola sampah.
Menurut Asti, SPPG tidak boleh mengolah sampah sendiri di lokasi yang sama dengan aktivitas pengolahan makanan.
“Mereka tidak boleh mengolah sampah sendiri karena harus menyiapkan makanan, jadi agar tidak tercampur dan tetap higienis, sampahnya diserahkan ke mitra kebersihan,” ujar Asti.

Pemisahan tersebut dinilai penting untuk menjaga area dapur tetap higienis. Aktivitas pengolahan makanan dan penanganan sampah perlu ditempatkan dalam alur yang berbeda agar tidak menimbulkan risiko pencemaran.
Berdasarkan hasil pendataan, sampah organik menjadi komponen terbesar dari timbulan sampah SPPG. Sampah jenis ini antara lain berasal dari sisa bahan baku memasak, seperti potongan sayuran dan kulit buah.
Dalam konteks Bontang, volume lebih dari satu ton sampah organik per hari menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian karena timbulan tersebut berasal dari aktivitas penyediaan makanan secara rutin.
Pengelolaan sejak dari dapur menjadi penting agar sampah tidak menumpuk dan tidak bercampur dengan proses penyiapan makanan.
Secara keseluruhan di Kaltim, data mencatat 196 SPPG dengan 397.762 penerima manfaat. Total timbulan yang tercantum dalam tabel mencapai 9.815,54 kilogram sampah organik dan 1.829,09 kilogram sampah anorganik per hari.
Namun, pengukuran pada periode tersebut dilakukan pada 137 dari 196 SPPG. Dokumen juga mencatat bahwa data merupakan asersi yang diberikan masing-masing SPPG berdasarkan arahan tim evaluasi. (*)

![Siswa Bontang sedang menyantap menu MBG beberapa waktu lalu. [FAHRUL/PRANALA.CO]](/api/watermark-image?src=%2Fuploads%2F2026%2F08%2F3612c880-b2ed-4ccd-8bbe-516823a442b8.webp&wm=%2Fuploads%2F2026%2F07%2F601065b6-7686-4aac-872e-59753a780678.webp&op=29&sz=50&pos=center&pt=10&pr=10&pb=10&pl=10)













