DINAS Kesehatan alias Diskes Bontang mengonfirmasi temuan bakteri patogen pada sampel makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang memicu keracunan massal di tiga sekolah.
Temuan laboratorium ini memperjelas penyebab puluhan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi hidangan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2.
Penyelidikan epidemiologi mencatat puluhan korban terdampak akibat insiden yang terjadi Rabu, 5 Agustus 2026 tersebut. Petugas mengidentifikasi total 27 kasus sakit yang meliput 14 siswa, 11 guru, dan 2 wali murid dari sekira 2.036 penerima manfaat.
"Hasil pemantauan hingga 7 Agustus 2026 menunjukkan seluruh pasien telah pulih atau dalam kondisi stabil, serta tidak ada penambahan kasus baru," kata Kepala Diskes Bontang, dr. Toetoek Pribadi Ekowati, Senin (10/8/2026).
Pemeriksaan sampel makanan di laboratorium mengarah pada dua menu utama yang dibagikan kepada para siswa dan pengajar. Diskes Bontang mendeteksi keberadaan bakteri patogen pada sampel hidangan ayam serundeng serta gulai sayur.
Petugas mengidentifikasi sejumlah titik rawan pencemaran selama proses penyediaan hidangan. Aspek higiene penjamah makanan menjadi perhatian utama, khususnya saat penanganan dan pemorsian makanan ke dalam wadah saji.
Proses pendinginan olahan pascamasak juga memicu risiko kontaminasi tinggi jika sanitasi lingkungan terabaikan. Penggunaan alat bantu pendingin seperti kipas angin yang kurang bersih berpotensi menyebarkan kuman ke olahan yang siap santap.
Tim investigasi memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan bahan pengganti atau inovasi menu tanpa kajian keamanan pangan. Penyedia jasa memasukkan kemiri sebagai bahan pengganti santan dalam olahan gulai sayur tanpa evaluasi risiko secara mendalam.
"Penggunaan bahan pengganti seperti kemiri perlu dikaji dari sisi keamanan pangan, termasuk potensi alergi dan risiko lain jika pengolahannya tidak sesuai. Harusnya ada kajian terlebih dahulu apakah itu aman atau tidak," ujar dr. Toetoek.
Diskes Bontang meminta seluruh pengelola dapur MBG memperhatikan penanganan buah segar dan bahan pangan lain. Pemisahan serta pencucian bahan mentah secara benar mutlak diperlukan untuk mencegah timbulnya kontaminasi silang.
Rekomendasi Teknis Evaluasi Dapur MBG
Diskes Kota Bontang bersama puskesmas setempat terus memantau kesehatan para penerima manfaat serta mengevaluasi alur penyediaan makanan. Temuan investigasi ini menjadi dasar pembinaan menyeluruh terhadap penerapan higiene, sanitasi, dan penanganan makanan.
Pihak otoritas kesehatan menyiapkan panduan perbaikan proses pewadahan hingga pencegahan pencemaran silang bagi pengelola SPPG. Langkah ini bertujuan memastikan standar keamanan pangan terpenuhi secara ketat pada setiap tahapan produksi.
"Rekomendasi teknis akan kami sampaikan secara tertulis kepada pihak SPPG sebagai bahan perbaikan dan penguatan keamanan pangan," pungkas dr. Toetoek. (*)

![Para siswa SDN 012 Bontang Selatan tetap menyantap menu MBG meski kemarin sempat puluhan siswa alami mual dan muntah. [Fahrul/Pranala.co]](/api/watermark-image?src=%2Fuploads%2F2026%2F08%2F3bf9df6f-22a5-4af0-9503-66b866a627f7.webp&wm=%2Fuploads%2F2026%2F07%2F601065b6-7686-4aac-872e-59753a780678.webp&op=29&sz=50&pos=center&pt=10&pr=10&pb=10&pl=10)













